Jumat, 31 Mei 2013

Masyarakat

Masyarakat menurut Koentjaraningrat (1990 : 146) adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat terus-menerus dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

Menurut Ralph Linton dalam bukunya yang berjudul Study of Man, masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berpikir tentang dirinya sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.

Menurut Paul B. Horton, masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, yang hidup bersama-sama cukup lama, yang mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama dan melakukan sebagian besar kegiatan dalam kelompok itu.

Ciri-ciri pokok dari masyarakat, yaitu :
  1. Manusia yang hidup bersama sekurang-kurangnya terdiri atas 2 orang.
  2. Bercampur atau bergaul dalam waktu yang cukup lama. Berkumpulnya manusia akan menimbulkan manusia-manusia baru sebagai akibat hidup bersama itu, timbul sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antar manusia.
  3. Sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan.
  4. Merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena mereka merasa dirinya terkait satu dengan yang lainnya.
  5. Melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya.
Unsur-unsur terbentuknya suatu masyarakat antara lain :
  1. Terdapat sekumpulan orang
  2. Berdiam atau bermukim di suatu wilayah dalam waktu yang relatif sama atau waktu yang lebih lama.
  3. Perekrutan seluruh atau sebagian anggotanya melalui reproduksi atau kelahiran.
  4. Kesetiaan pada suatu sistem tindakan utama secara bersama-sama.
  5. Adanya sistem tindakan utama yang bersifat swasembada.
  6. Akibat hidup bersama dalam jangka waktu yang lama menghasilkan kebudayaan berupa sistem nilai, sistem ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Masyarakat secara garis besar menyangkut 3 aspek, yaitu :
  1. Struktur Sosial. Keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, seperti kaidah-kaidah sosial (norma sosial), lembaga sosial, kelompok sosial dan lapisan sosial (pranata sosial).
  2. Proses Sosial. Pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama.
  3. Perubahan Sosial. Perubahan dalam struktur sosial dan jalinan hubungan dalam masyarakat



Referensi :
Materi ajar dari bpk Ibnu Hurri, H. S.sos

Kamis, 30 Mei 2013

Kelompok Sosial

Lahirnya kelompok sosial disebabkan oleh kebutuhan manusia untuk berhubungan, tapi tidak semua hubungan tersebut dapat dikatakan sebagai kelompok sosial. Soerjono Soekanto (1982 : 111) mengemukakan beberapa persyaratan terbentuknya kelompok sosial, yaitu :
  1. Adanya kesadaran dari anggota kelompok tersebut bahwa ia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan.
  2. Adanya hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan yang lainnya dalam kelompok.
  3. Adanya suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok yang bersangkutan yang merupakan unsur pengikat atau pemersatu. Faktor tersebut dapat berupa nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama ataupun ideologi yang sama.
  4. Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku.
Mac Iver (1961 : 213) menyatakan bahwa "Kelompok sosial terbentuk melalui proses interaaksi dan sosialisasi, dimana manusia berhimpun dan bersatu dalam kehidupan bersama berdasarkan hubungan timbal balik, saling mempengaruhi dan memiliki kebersamaan untuk tolong menolong."

Proses yang berlangsung dalam kelompok sosial adalah "proses sosialisasi." Buhler (1968 : 172) menyatakan bahwa proses sosialisasi adalah "proses yang membantu individu dalam kelompok melalui belajar dan penyesuaian diri, bagaimana cara hidup dan berfikir kelompoknya agar ia dapat berperan serta berfungsi bagi kelompoknya."

Berdasarkan pengalaman dalam kelompok, manusia mempunyai sistem tingkah laku (behavior system) yang dipengaruhi oleh watak pribadinya. Sistem perilaku ini yang akan membentuk suatu sikap (attitude).

Klasifikasi Tipe-tipe Kelompok Sosial

Mac Iver dan Page (1957 : 213) menggolongkan kelompok sosial dalam beberapa kriteria, yaitu :
  1. Derajat interaksi sosial yang terjadi dalam kelompok tersebut.
  2. Besar kecil anggota kelompok tersebut.
  3. Sistem ide (ideologi) yang ada di dalam kelompok tersebut.
  4. Kepentingan atau tujuan kelompok tersebut.
  5. Wilayah geografis.
Simmel dalam Systematic Society mendasarkan pengelompokannya pada :
  1. Besar kecilnya jumlah anggota kelompok
  2. Cara individu dipengaruhi kelompoknya atau individu mempengaruhi kelompok.
  3. Interkasi sosial yang terjadi dalam kelompok tersebut.
Simmel memulainya dengan bentuk terkecil yang terdiri dari satu orang individu sebagai fokus hubungan sosial yang dinamakan "monad," lalu dua individu yang dinamakan "dyad" dan tiga individu yang dinamakan "triad." Ukuran lain dari klasifikasi kelompok sosial itu berdasarkan tingkat interaksi sosial yang terjadi dalam kelompok tersebut.

Kelompok Sosial dipandang dari sudut pandang Individu

Pembagian kelompok sosial dari sudut pandang individu dapat dilihat dari :
  1. Keterlibatan individu dalam kelompok tersebut
  2. Keanggotaan individu tidak selalu bersifat sukarela, tapi bisa bersifat wajib.
  3. Kelompok sosial juga bisa didasari oleh kekerabatan, usia, sex (gender), pekerjaan dan status sosial.
In Group dan Out Group

Menurut Polaj (1966 : 166) konsep In Group dan Out Group adalah "cerminan dari adanya kecenderungan sifat "entnocentris" dari individu-individu dalam proses sosialisasi sehubungan dengan keanggotaannya pada kelompok-kelompok sosial tersebut. Sikap dalam menilai kebudayaan lain dengan menggunakan ukuran-ukuran sendiri." Sikap mempercayai sesuatu ini yang disebut dengan "beliefs" yang diajarkan kepada anggota kelompok melalui proses sosialisasi, baik secara sadar atau tidak sadar.

Menurut Soerjono Soekanto (1984 : 120), sikap In Group biasanya didasari oleh perasaan simpati. Dalam In Group seringkali digunakan Stereotypen, yaitu gambaran-gambaran atau anggapan-anggapan yang bersifat mengejek terhadap suatu objek diluar kelompoknya. Out Group didasari oleh suatu kelainan dengan wujud antipati.

Primary Group dan Secondary Group

Charles Horton Cooley dalam Social Organization menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang luas dan mendasar dalam klasifikasi kelompok-kelompok sosial yang menyangkut perbedaan antar kelompok. Menurut Cooley Primary Group merupakan kelompok yang ditandai dengan ciri-ciri kenal-mengenal antara anggotanya serta kerjasama erat yang bersifat pribadi. Selo Soemarjan dan Soemardi (1964 : 604) dalam bukunya "Setangkai Bunga Sosiologi" menyatakan bahwa Primary Group merupakan kelompok kecil yang permanen berdasarkan saling mengenal secara pribadi diantara anggotanya.

Davis (1960 : 290) mengemukakan ciri-ciri khusus dari primary group sebagai berikut :
  1. Kondisi fisik. Cirinya adalah sifat saling kenal mengenal, kedekatan secara fisik dan emosional, adanya norma yang mengatur hubungan antara anggota-anggota dalam kelompok tersebut, dan kelompoknya biasanya kecil (anggotanya sedikit).
  2. Sifat hubungan primer. Bersifat kesamaan tujuan dari individu-individu dalam kelompok tersebut. Tujuan tersebut bersifat pribadi, spontan sentimental dan inklusif. Soekanto (1982 : 124) menyatakan bahwa sifat Inklusif adalag hubungan primer yang bersifat pribadi, mengandung arti hubungan tersebut melekat secara inheren pada kepribadian seseorang yang tidak mungkin digantikan oleh orang lain. Hubungan Inklusif didasarkan atas kesukarelaan dari pihak-pihak yang mengadakan hubungan tersebut. Sifat Inklusif juga berarti bahwa hubungan primer menyangkut segala sesuatu tentang perasaan, kepribadian dan tempramen.
  3. Kelompok-kelompok yang kongkret dan hubungan primer. Dalam kenyataan tidak ada primary group yang memenuhi hubungan ini secara sempurna. Hubungan primer yang masih murni biasanya terdapat pada masyarakat-masyarakat yang masih sederhana organisasinya, misalnya pada masyarakat pedesaan.
Rouceck dan Warren (1962 : 46) dalam "Sociology an Introduction" membatasi pengertian secondary group sebagai kelompok-kelompok besar yang terdiri dari banyak orang dan diantara individu itu tidak perlu saling mengenal secara pribadi dan sifatnya tidak langgeng.

Rabu, 29 Mei 2013

Individu

Apa itu individu? Individu berasal dari kata in-dividere yang berarti tidak dapat dibagi-bagi (Gerungan, 1981) atau sebagai sebutan bagi manusia yang berdiri sendiri, atau manusia perseorangan (Lysen, 1981). Individu yang dimaksud adalah insan (manusia). Aristoteles berpendapat bahwa manusia merupakan penjumlahan dari kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja sendiri seperti kemampuan-kemampuan Vegetatif (makan dan berkembang biak), kemampuan Sensitif (bergerak, bernafsu, perasaan dan mengamati) dan kemampuan Intelektif (kecerdasan).

Lain halnya dengan pendapat Descartes, bahwa manusia terdiri atas zat rohaniah ditambah zat materil. Akan tetapi, Willhem Wuntt menegaskan bahwa jiwa manusia itu materil merupakan suatu kesatuan jiwa raga yang berkegiatan sebagai keseluruhan. Individu dalam hal ini merupakan konsep sosiologi yang berarti bahwa konsep individu tidak boleh diartikan sama dengan konsep sosial. Individu itu memiliki arti yang agak berlainan. Jika dalam kehidupan sehari-hari individu menunjuk pada pribadi orang, sedangkan dalam Sosiologi individu menunjuk pada subjek yang melakukan sesuatu, yang mempunyai pikiran, yang mempunyai kehendak, kebebasan, memberi arti (meaning) pada sesuatu, yang mampu menilai tindakan dan hasil tindakannya sendiri.

Dengan kata lain, individu adalah subjek yang bertindak (aktor), subjek yang melakukan sesuatu hal, subjek yang memiliki pikiran, subjek yang memiliki keinginan, subjek yang memiliki kebebasan dan subjek yang memberi arti (meaning). Pada pengertian individu sebagai konsep Sosiologi, pengertian subjek menunjuk pada semua keadaan yang berhubungan dengan dunia internal manusia. Sedangkan konsep objek tidak terlalu berbeda jauh artinya dari yang diartikan dalam ilmu-ilmu alam, seperti batu, air dan semua benda pada umumnya. Secara biologis, pengaruh gen yang diwariskan orang tuanya atau bahkan leluhur sebelumnya sangat mempengaruhi kelahiran individu. Untuk melahirkan individu yang normal, selain dipengaruhi oleh gen juga sangat tergantung pada kondisi yang sehat di tempat calon individu itu dilahirkan. Kondisi sehat yang dimaksud adalah kondisi pranatalis di dalam rahim ibu.

Pertumbuhan dan perkembangan individu selanjutnya sangat dipengaruhi oleh berbagai masukan dari lingkungan sekitarnya. Salah satu lingkungan yang sehat adalah lingkungan pendidikan, melalui pendidikan individu dapat terbina dan terlatih potensinya. Nursid Sumaatmadja (1998) menyatakan bahwa "Kepribadian merupakan keseluruhan perilaku individu yang merupakan hasil interaksi antara ptensi-potensi bio-psiko-fisikal yang terbahwa sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan yang terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental-psikologisnya, jika mendapat rangsangan dari lingkungan."

Bagan Proses Pembentukan Individu menjadi Pribadi

Sumber : Nursid Sumaatmadja (1998 : 23)

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk individu yang tidak dapat melepaskan diri dari hubungan dengan sesama manusia lain di dalam menjalani kehidupan. Freedman (1962 : 112) menyatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak dilahirkan dengan kecakapan untuk "immadiate adaptation to environment" atau kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan segera terhadap lingkungan. Naluri manusia untuk selalu berhubungan dengan sesamanya ini dilandasi oleh alasan-alasan sebagai berikut :
  1. Keinginan manusia untuk menjadi satu dengan manusia lain disekelilingnya (masyarakat).
  2. Keinginan untuk menjadi satu dengan alam sekelilingnya.
  3. Naluri manusia untuk selalu hidup dengan yang lainnya disebut sebagai "gregariousness."


Referensi :
Materi ajar dari bpk Ibnu Hurri, H. S.sos


Selasa, 28 Mei 2013

Konsep pendidikan IPS di Indonesia dan Perkembangannya

Dalam wacana kurikulum sistem pendidikan di Indonesia terdapat tiga jenis program pendidikan sosial, yaitu:
  1. Program pendidikan ilmu-ilmu sosial (IIS) yang dibina pada fakultas-fakultas sosial murni,
  2. Disiplin Ilmu Pengetahuan Sosial (PDIPS) yang dibina pada fakultas-fakultas pendidikan ilmu sosial,
  3. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) yang diberikan terutama di dalam pendidikan persekolahan.
Perkembangan PIPS dan PDIPS secara konseptual terkait erat pada konsep "social studies" secara umum, dan secara kurikuler terkait erat pada perkembangan PIPS dalam dunia persekolahan. Oleh karena itu untuk melihat bagaimana karakteristik dan perkembangan PDIPS perlu dikaitkan dengan konsep, dan perkembangan "social studies" dan konsep sertaa perkembangan PIPS dalam dunia persekolahan.

Konsep "social studies" secara umum berkembang secara evolusioner di Amerika Serikat sejak tahun 1800-an, yang kemudian mengkristal menjadi domain pengkajian akademik pada tahun 1900-an, antara lain dengan berdirinya National Council for the Social Studies (NCSS) pada tahun 1935. Pilar akademik pertama muncul dalam pertemuan pertama NCSS tahun 1935, berupa kesepakatan untuk menempatkan "social studies" sebagai "core curriculum", dan pada tahun 1937 berupa kesepakatan mengenai pengertian "social studies" yang berawal dari pandangan Edgar Bruce Wesley, yakni " The social studies are the social sciences simplified for pedagogical purposes."

Dari penelusuran historis epistemologis, tercatat bahwa dalam kurun waktu 40 tahunan sejak tahun 1935 bidang studi "social studies" tidak mengalami perkembangan yang ditandai dengan ketidakmenentuan, ketidakberkeputusan, ketidakbersatuan, dan ketidakmajuan. Antara tahun 1940-1950 "social studies" mendapat serangan dari berbagai pihak, tahun 1960-1970 timbulnya tarik menarik antara pendukung gerakan the new social studies yang dimotori oleh para sejarawan dan ahli-ahli ilmu sosial dengan gerakan "sosial studies" yang menekankan pada "citizenship education." Para pendukung gerakan "The New Social Studies" kemudia mendirikan Social Science Education Consortium (SSEC). Sedangkan NCSS terus mengembangkan gerakan "social studies" yang terpisah pada "citizenship education."

Pada tahun 1980-1990 an kelompok NCSS berhasil menyepakati "scope and sequence of social studies," yaitu tahun 1963. Kemudian pada tahun 1989 berhasil disepakati konsep "social studies" untuk abad ke 21 yang dituangkan dalam "Charting A Course : Social Studies for the 21st Century," dan terakhir pada tahun 1994 disepakati "Curriculum Standards for Social Studies." 

Dalam perkembangan terakhir itu NCSS masih tetap menempatkan "citizenship education" sebagai inti dari tujuan "social studies". Sementara itu pada kelompok SSEC, kelompok bidang studi ekonomi mengembangkan secara tersendiri "economics education".

Pemikiran mengenai konsep pendidikan IPS di Indonesia banyak dipengaruhi oleh pemikiran "social studies" di Amerika Serikat sebagai salah satu negara yang memiliki pengalaman panjang dan reputasi akademis yang signifikan dalam bidang itu. Reputasi tersebut tampak dalam perkembangan pemikiran mengenai bidang itu seperti dapat disimak dari berbagai karya akademis yang antara lain dipublikasikan oleh National Council for the Social Studies (NCSS).

Senin, 27 Mei 2013

Desa, Pedesaan, Kota, dan Perkotaan

Definisi Desa, Pedesaan, Kota, dan Perkotaan.

Desa merupakan daerah yang memiliki kepadatan penduduk rendah, bermata pencaharian dibidang agraris, memiliki bangunan tempat tinggal yang terpencar-pencar, penduduknya memiliki hubungan sosial yang sangat tinggi serta bersifat homogen.

Menurut Prof. Dr. R. Bintarto, desa merupakan perwujudan atau persatuan geografi, sosial, ekonomi, politik, dan kultural yang terdapat di daerah itu dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.

Pedesaan merupakan daerah pemukiman penduduk yang sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, iklim, dan air sebagai syarat penting bagi terwujudnya pola kehidupan agraris penduduk di tempat itu.

Prof. Dr. R. Bintarto mengemukakan bahwa kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik.

Perkotaan adalah wilayah dengan kegiatan utama bukan pertanian dan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.

Perbedaan dan Persamaan Desa dengan Pedesaan

Perbedaan desa dengan pedesaan yaitu bahwa desa merupakan daerah yang memiliki kepadatan penduduk rendah, penduduknya memiliki hubungan sosial yang sangat tinggi serta bersifat homogen. Sedangkan kalau pedesaan memiliki arti yang luas, dikatakan pedesaan apabila terdiri dari beberapa desa yang merupakan daerah pemukiman penduduk dan sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, iklim dan air sebagai syarat penting bagi terwujudnya pola kehidupan agraris penduduk di tempat itu.

Persamaan desa dengan pedesaan yaitu dapat dilihat pada hubungan antar masyarakatnya yang bersifat kekeluargaan dan gotong royong, mata pencaharian pokok penduduknya adalah dibidang agraris.

Perbedaan dan Persamaan Kota dengan Perkotaan

Perbedaan kota dengan perkotaan yaitu bahwa kota merupakan wilayah pemukiman penduduk dengan kepadatan penduduk yang tinggi, antar masyarakatnya tidak memiliki hubungan yang erat, interaksi bergantung kepada kepentingan, bersifat individualisme dan memiliki perilaku yang heterogen. Sedangkan perkotaan memiliki arti yang luas, suatu wilayah dikatakan wilayah perkotaan apabila merujuk pada ciri-ciri, sifat, dan situasi yang ada pada kota.

Persamaan kota dengan perkotaan yaitu sama-sama memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, antar masyarakat tidak memiliki hubungan yang erat, interaksi bergantung kepada kepentingan, bersifat individualisme, memiliki perilaku yang heterogen, bermata pencaharian bukan dibidang agraris dengan kata lain pertanian bukan pokok utama mata pencaharian.

Ciri-ciri Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan

Masyarakat Pedesaan
  1. Di dalam masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat.
  2. Sistem kehidupan masyarakat pedesaan pada umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan (gameinschaft atau paguyuban).
  3. Sebagian besar masyarakat pedesaan hidup dari pertanian. Pekerjaan-pekerjaan yang bukan pertanian merupakan pekerjaan sampingan yang biasanya sebagai pengisi waktu luang.
  4. Masyarakat pedesaan bersifat homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat dan sebagainya.
Masyarakat Perkotaan
  1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
  2. Masyarakat perkotaan pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain
  3. Interaksi yang terjadi lebih banyak berdasarkan faktor kepentingan daripada faktor pribadi.
  4. Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
  5. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.



Referensi:
http://kamusbahasaindonesia.org/pedesaan
http://id.wikipedia.org/wiki/Desa
http://fadlyghopal.wordpress.com/2010/12/04/masyarakat-perkotaan-dan-masyarakat-pedesaan/

Minggu, 26 Mei 2013

Problema Masuk dan Persebaran Islam di Indonesia

Ada beberapa pendapat mengenai proses penyebaran Islam di Indonesia, misalnya menurut Ricklefs, proses penyebaran Islam itu dilakukan dengan dua proses. Pertama, penduduk pribumi berhubungan dengan agama Islam dan kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang asing (Arab, India, Persia, dan lain-lain) yang telah memeluk agama Islam bertempat tinggal secara permanen di suatu wilayah di Indonesia, melakukan perkawinan campuran dan mengikuti gaya hidup lokal sehingga ajaran Islam dengan mudah masuk dalam kehidupan pribumi (orang Indonesia). Pada perkembangan berikutnya penyebaran Islam dilakukan melalui pertunjukan kesenian, diplomasi politik dengan penguasa setempat, membuka lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren, dan tasawuf.

Pendapat lain membuktikan bahwa agama dan kebudayaan Islam masuk ke wilayah Indonesia dibawa oleh para pedagang Islam dari Gujarat (India). Hal ini dilihat dari penemuan unsur-unsur Islam di Indonesia yang memiliki persamaan dengan India seperti batu nisan yang dibuat oleh orang-orang Kambay, Gujarat.


Download materi lengkapnya disini


Referensi:
http://serbasejarah.blogspot.com/2011/11/penyebaran-islam-di-nusantara.html
http://serbasejarah.blogspot.com/2011/12/proses-awal-kedatangan-islam-ke-indonesia.html
Hasan, Said. H, Materi Pokok Pendidikan IPS 2, Jakarta:Universitas Terbuka, Depdikbud, 1996.

Sabtu, 25 Mei 2013

Sistem Pembelajaran Inkuiri

Sistem Pembelajaran Inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.

Strategi pembelajaran ini menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung. Peran siswa dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar.

Pembelajaran Inkuiri menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya bahwa strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar (siswa : subjek). Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri sehingga muncul sikap percaya diri, hal ini menempatkan guru sebagai fasilitator bukan sumber belajar. Tujuan dari sistem pembelajaran inkuiri adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis (mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental).

Strategi pembelajaran Inkuiri akan efektif apabila :
  1. guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan demikian, dalam strategi inkuiri penguasaan materi pelajaran bukan sebagai tujuan utama pembelajaran, akan tetapi yang lebih dipentingkan adalah proses belajar.
  2. bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
  3. proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
  4. guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir. Strategi inkuiri akan kurang berahsil diterapkan kepada siswa yang kurang memiliki kemampuan untuk berpikir.
  5. jumlah siswa yang belajar tidak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
  6. guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
Prinsip-prinsip penggunaan sistem pembelajaran inkuiri berorientasi pada pengembangan intelektual, yaitu pengembangan kemampuan berpikir, aktivitas siswa mencari dan menemukan sesuatu.
  1. Prinsip interaksi : proses pembelajaran pada dasarnya merupakan proses interaksi, guru merupakan pengatur interaksi.
  2. Prinsip bertanya : sesuai dengan peran guru dalam pembelajaran inkuiri adalah sebagai penanya, sehingga guru harus menguasai teknik bertanya yang baik.
  3. Prinsip belajar untuk berpikir : belajar adalah proses berpikir (learning how to think), mengembangkan potensi otak.
  4. Prinsip keterbukaan : belajar merupakan proses mencoba berbagai kemungkinan, guru memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis.
Langkah-langkah pelaksanaan sistem pembelajaran inkuiri, antara lain :
  • Orientasi
Guru mengkondisikan siswa siap belajar dengan merangsang dan mengajak siswa untuk memecahkan masalah. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah menjelaskan topik tujuan dan hasil belajar yang diharapkan akan dicapai oleh siswa, menjelaskan pokok-pokok kegiatan (langkah-langkah inkuiri) yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan dan menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar.
  • Merumuskan masalah
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah adalah bahwa masalah itu dirumuskan sendiri oleh siswa sedangkan guru hanya memberi topik, masalah yang dikaji mengandung teka-teki yang jawabannya pasti dan konsep dalam masalah merupakan konsep yang sudah diketahui sebelumnya oleh siswa.
  • Mengajukan hipotesis
Dilakukan dengan memberikan berbagai pertanyaan yang akan mendorong siswa untuk membuat kesimpulan sementara.
  • Mengumpulkan data
Aktivitas menjaring informasi yang digunakan untuk menguji hipotesis, tugas guru memberi pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
  • Menguji hipotesis
Menentukan jawaban yang dianggap dapat diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh, menguji hipotesis berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional.
  • Merumuskan kesimpulan
Adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.

Kesulitan-kesulitan dalam penerapan sistem pembelajaran inkuiri  adalah karena menekankan kepada proses berpikir yang berdasarkan kepada dua sayap yang sama pentingnya yaitu proses belajar dan hasil belajar. Disisi lain sudah sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru, dengan demikian bagi siswa, guru adalah sumber belajar yang utama. Selain itu sistem pendidikan yang belum konsisten antara pola belajar (harus student center) dan evaluasi (masih ada UAN)

Keunggulan Sistem Pembelajaran Inkuiri yaitu :
  1. SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, apektif dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
  2. SPI dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
  3. SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
  4. SPI dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata
Kelemahan Sistem Pembelajaran Inkuiri yaitu :
  1. Jika SPI digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
  2. Sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
  3. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya memerlukan waktu yang panjang sehingga seringkali guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
  4. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka SPI akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.


Referensi : Materi ajar bpk. Ibnu Hurri, H. S.sos

Jumat, 24 Mei 2013

Konsep Dasar Antropologi

Antropologi berasal dari bahasa Yunani, Antropologi terdiri dari 2 suku kata yaitu Anthropos dan Logos. Anthropos berarti manusia dan Logos berarti ilmu, jadi secara etimologi, Antropologi berarti ilmu yang mempelajari mengenai manusia.

Apabila kita bertanya apakah yang membedakan manusia dengan hewan atau binatang secara fundamental amaka jawabannya adalah manusia mampu berbudaya, sedangkan hewan tidak. Apa yang dimaksud dengan kebudayaan? Ahli Antropologi yangmengkaji tentang kebudayaan itu dan mencoba menerangkannya atau setidak-tidaknya telah menyusun definisinya. Dilihat dari asal-usul kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Budhi yang berarti akal/ide dan Daya yang berarti usaha /bentuk. 

Adapun ahli Antropologi yang pertama-tama merumuskan definisi kebudayaan adalah:
E. B. Taylor (1874), yang menulis dalam bukunya "Primitive Culture," yaitu:
"Kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat."


Download materi lengkapnya disini



Referensi :
Powerpoint tentang "Konsep Dasar Antropologi" dari bp Ibnu Hurri, H. S.sos


Karakteristik Konsep Sejarah

Secara umum Sejarah adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa kehidupan manusia pada masa lampau. Menurut Hugino dan P.K. Poerwantana, "Sejarah adalah gambaran tentang peristiwa-peristiwa masa lampau yang dialami manusia, disusun secara ilmiah meliputi urutan waktu, diberi tafsiran dan analisis kritis sehingga mudah dimengerti dan dipahami." Sejarah sesungguhnya melekat pada tiap benda, tiap diri makhluk, baik yang hidup maupun yang tidak hidup, tiap fenomena yang ada di alam raya ini. Dengan kata lain, setiap apa yang ada di alam raya ini memiliki sejarah masing-masing atau paling tidak riwayat asal-usulnya.

Dalam mata kuliah Konsep Dasar IPS, Sejarah ini terutama ditujukan pada pembahasan hidup dan kehidupan manusia dalam konteks sosialnya. Oleh karena itu pembahasannya menitikberatkan kepada "Sejarah sebagai salah satu bidang ilmu sosial yang dapat dikonsepkan."

Kunci dalam pengertian Sejarah terletak pada masa lampau, baik itu berupa peristiwa, pengalaman kolektif maupun riwayat masa lampau tersebut. Sejarah sesungguhnya melekat pada tiap benda, tiap diri makhluk hidup (baik yang hidup dan tak hidup), serta setiap fenomena yang terdapat di alam raya ini.

Dengan kata lain, tiap apa yang ada di alam raya ini memiliki sejarah masing-masing, atau paling tidak ada riwayat asal-usulnya. Secara objektif, suatu peristiwa ataupun pengalaman hidup dimasa lampau tidak dapat diulang kembali. Sejarah sebagai bidang ilmu sosial memiliki konsep dasar, antara lain:
  1. Waktu
  2. Dokumen
  3. Alur Peristiwa
  4. Kronologi
  5. Peta
  6. Tahap-tahap Peradaban
  7. Ruang
  8. Evolusi
  9. Revolusi


Download materi lengkapnya disini



Referensi:
Powerpoint tentang "Karakteristik Konsep Sejarah" dari bpk Ibnu Hurri, H. S.sos 




Kamis, 23 Mei 2013

Uniform Region, Nodal Region, Generic Region, dan Specific Region

Setiap tempat dipermukaan bumi mempunyai ciri-ciri yang khusus dimana dapat dibedakan antara tempat yang satu dengan tempat yang lain. Oleh karena itu konsep tempat dinamakan wilayah (region). Konsep tempat dalam pengertian wilayah dapat digunakan sebagai pendekatan geografi, klasifikasinya adalah sebagai berikut:
  • Uniform Region (Wilayah Formal)
Uniform region atau region statis yaitu region yang dibentuk oleh adanya kesamaan kenampakan, termasuk iklim, vegetasi, tanah, landform, pertanian atau penggunaan lahan. Uniform region juga disebut dengan wilayah formal. Homogenitas dari wilayah formal dapat ditinjau berdasarkan kriteria fisik atau alam ataupun kriteria sosial budaya. Wilayah formal berdasarkan kriteria fisik didasarkan pada kesamaan tofografi, jenis batuan, iklim dan vegetasi.
  • Nodal Region (Wilayah Fungsional)
Nodal Region adalah suatu wilayah yang diatur oleh beberapa pusat kegiatan yang dihubungkan melalui garis melingkar. Wilayah Nodal secara fungsional mempunyai ketergantungan antara pusat (inti) dan daerah belakangnya (interland). Tingkat ketergantungan ini dapat dilihat dari arus penduduk, faktor produksi, barang dan jasa, ataupun komunikasi dan transfortasi. Nodal Region atau Region Dinamis ditandai oleh gerak dari dan ke pusat. Pusat ini disebut sebagai node. Wilayah Nodal dikatakan dinamis sebab didefinisikan sebagai gerakan bukan objek yang statis dan terdapat fungsi suatu tempat sebagai sirkulasi. Hubungan antarpusat kegiatan pada umumnya dicirikan dengan adanya arus transportasi dan komunikasi yang pada akhirnya menunjang pertumbuhan dan perkembangan dari setiap wilayah tersebut.
  • Generic Region
Generic Region adalah wilayah yang diklasifikasikan berdasarkan jenisnya sehingga fungsi wilayah yang bersangkutan diabaikan. Penggolongan wilayah ini didasarkan pada kenampakan jenis tertentu.
  • Specific Region
Specific Region yaitu wilayah berdasarkan kekhususan sehingga merupakan daerah tunggal yang mempunyai ciri-ciri tersendiri. 




Download materi lengkapnya disini


Referensi:
- Buku Konsep Dasar IPS oleh Abdul Aziz Wahab, dkk.
- Google

Karakteristik Konsep Geografi

Geografi berasal dari kata Geo dan Graphien, Geo artinya Bumi, dan Graphien artinya Tulisan atau Lukisan. Secara harfiah, Geografi berarti lukisan tentang bumi, namun pada pembahasan oleh para pakar Geografi selanjutnya pengertian itu tidak hanya sekedar tulisan atau lukisan saja, melainkan meliputi juga penelaahan lebih jauh.

Konsep Geografi menurut Council of Geographical Association (1919)

Geografi berkenaan dengan dunia nyata, dunia yang dipelajari seseorang dengan baik. Namun penelaahan Geografi tidak berakhir pada hal-hal yang terlihat dari luar, penelaahan tersebut juga meliputi sebab-akibat mengapa dunia nyata tersebut menampakkan demikian yang dipandang sebagai keseluruhan yang menghubungkan bagian-bagian sebagaimana adanya. Hal itu meliputi hubungan dengan ilmu kealaman, berkenaan dengan cara bagaimana hal-hal itu telah mempengaruhi manusia dan kebalikannya telah dimodifikasi, diubah dan diadaptasi oleh tindakan manusia (Williams, M).

Konsep Geografi menurut rumusan Geografian Indonesia pada Seminar dan Lokakarya Nasional Peningkatan Kualitas Pengajaran di Semarang tahun 1988 : "Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang lingkungan atau kewilayahan dalam konteks keruangan."

Geosfer mempelajari mengenai permukaan bumi yang merupakan bagian dari bumi yang terdiri atas atmosfer (lapisan udara), litosfer (lapisan batuan dan kulit bumi), hidrosfer (lapisan air/perairan), dan biosfer (lapisan kehidupan).

Pada konsep Geografi ini terungkap hubungan saling memengaruhi antara fenomena alam di tempat-tempat tertentu dengan perilaku serta tindakan manusia. Ada 2 kelompok konsep dasar dalam Geografi, yaitu:
  1. Getrude Whipple : Bumi sebagai planet, variasi cara hidup, variasi wilayah-wilayah alamiah, makna wilayah (region) bagi manusia dan pentingnya lokasi dalam memahami peristiwa dunia.
  2. Henry J. Warman : Konsep wilayah, lapisan kehidupan, manusia sebagai faktor ekologi dominan, globalisme atau bumi sebagai planet, interaksi keruangan, hubungan areal, persamaan areal, perbedaan areal, keunikan areal, persebaran areal, lokasi relatif, keunggulan komparatif, perubahan abadi, sumber daya yang dibatasi secara budaya dan konsep peta.
Kajian Materi Geografi

Menurut Broek (1980), hakikat Geografi ada 6, yaitu:
  1. Geografi sebagai ilmu pengetahuan biofisik
  2. Geografi sebagai relasi hubungan timbal-balik antara manusia dengan alam
  3. Geografi sebagai ilmu ekologi manusia
  4. Geografi sebagai studi bentang lahan
  5. Geografi sebagai studi penyebaran gejala di permukaan bumi
  6. Geografi sebagai teori keruangan bumi
Kajian materi Geografi bisa dilihat dari 2 sudut pandang, yaitu:
  1. Objek Material : Meliputi gejala-gejala yang terdapat dan terjadi di permukaan bumi
  2. Objek Formal : Adalah cara memandang dan cara berfikir terhadap objek material tersebut dari segi Geografi yaitu segi keruangan, lingkungan dan kompleks wilayah. Dalam sejarah perkembangan Geografi, objek kajian Geografi mengalami perubahan. Awal mulanya mempelajari nama-nama tempat, seluk beluk yang berkaitan dengan peta sampai pada penggambaran (deskripsi) tempat-tempat yang belum dikenal di permukaan bumi.


Download materi lengkapnya disini


Referensi:
Powerpoint tentang "Karakteristik Konsep Geografi" dari bpk Ibnu Hurri, H. S.sos

Rabu, 22 Mei 2013

Sejarah Perkembangan IPS di Indonesia

Secara historis epistemologis sulit menelusuri perkembangan IPS di Indonesia karena ada dua alasan :
  1. Di Indonesia belum ada lembaga profesional bidang Pendidikan IPS (PIPS) seperti NCSS,  lembaga serupa yang dimiliki Indonesia yaitu HISPISI (Himpunan Serjana Pendidikan IPS Indonesia) yang usianya masih sangat muda dan produktivitas akademisnya masih sangat terbatas.
  2. Perkembangan kurikulum dan pembelajaran IPS sebagai ontologi ilmu pendidikan (disiplin) IPS sampai saat ini masih sangat bergantung pada pemikiran individual atau kelompok pakar yang ditugasi secara insidental untuk mengembangkan perangkat kurikulum IPS melalui Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarjana Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang Diknas) dan Pusat Kurikulum dan Buku (Puskurbuk Diknas).
Istilah IPS pertama kali muncul dalam Seminar Nasional tentang Civic Education tahun 1972 di Tawamangu, Solo. Ada 3 istlah yang muncul dari Seminar Nasional di Tawamangu dan digunakan secara bertukar, yaitu:
  1. Pengetahuan Sosial / Social Science
  2. Studi Sosial / Social Studies
  3. Ilmu Pengetahuan Sosial / Social Education
Konsep IPS pertama muncul dalam dunia persekolahan terjadi pada tahun 1973 dalam kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Bandung. Dalam kurikulum PPSP ini IPS menggunakan istilah:
  1. Studi Sosial
  2. Pendidikan Kewarganegaraan
  3. Civic dan Hukum
Menurut Barr pada tahap ini kurikulum PPSP mengenai Konsep Pendidikan IPS diwujudkan dalam 3 bentuk:
  1. PIPS terintegrasi dengan nama PKN / Studi Sosial
  2. PIPS terpisah, dimana istilah IPS hanya digunakan sebagai konsep payung untuk mata pelajaran Geografi, Sejarah dan Ekonomi
  3. PKN sebagai suatu bentuk PIPS khusus, yang dalam konsep Social Studies termasuk "Citizenship Transmission."
Dalam kurikulum 1975 PIPS menampilkan 4 profil, yaitu:
  1. PMP menggantikan PKN sebagai suatu bentuk PIPS khusus yang mewadahi Citizenship Transmission
  2. PIPS terpadu untuk SD
  3. PIPS terkonfederasi untuk menempatkan IPS sebagai konsep payung pelajaran Geografi, Sejarah dan Ekonomi Koperasi
  4. PIPS terpisah yang mencakup mata pelajaran Sejarah, Geografi, dan Ekonomi untuk SMA atau Sejarah dan Geografi untuk SPG.
Kurikulum PIPS 1984 masih sama dengan 1975, tetapi pada kurikulum 1984 terdapat penyempurnaan. Kurikulum 1994 mata pelajaran PPKn merupakan mata pelajaran sosial khusus yang wajib diikuti oleh semua siswa dalam setiap jenjang pendidikan (SD, SMP, SMA). Mata pelajaran IPS diwujudkan dalam:
  1. PIPS terpadu di SD kelas 3 sampai dengan kelas 6
  2. PIPS terkonfederasi di SLTP mencakup mata pelajaran Geografi, Sejarah dan Ekonomi Koperasi
  3. PIPS terpisah pada jenjang SMU, hampir mirip dengan "Social Studies" tetapi merupakan bagian Ilmu Pengetahuan Sosial

Sejarah Perkembangan IPS Secara Umum

Sejarah perkembangan IPS secara umum memang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Social Studies yang berkembang di Amerika Serikat (USA), adanya Social Studies ini dilatarbelakangi oleh hancurnya tatanan sosial yang ada di masyarakat pada masa itu. Penyebab kehancuran tersebut yaitu terjadinya Perang Dunia ke-1 pada tahun 1914-1918 yang menimbulkan dampak yang besar, seperti kelaparan, rusaknya fasilitas-fasilitas umum, dan lain-lain yang tentu saja memengaruhi status dan peranan seseorang di masyarakat. Norma-norma yang berlaku di masyarakat pada masa itu cenderung di abaikan. Karena hal inilah para ahli ilmu pengetahuan yang dinaungi NCSS (National Council for The Social Studies) melakukan pertemuan untuk pertama kalinya pada tanggal 20-30 November 1935 untuk membicarakan pemikiran tentang Social Studies.

Pada tahun 1937, Edgar Bruce Wisley mengemukakan bahwa Social Studies adalah Ilmu-ilmu Sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan. Dari pengertian ini terkandung hal-hal sebagai berikut:
  1. Social Studies merupakan turunan dari Ilmu-Ilmu Sosial
  2. Dikembangkannya Social Studies ini bertujuan untuk memenuhi tujuan pendidikan/pembelajaran di tingkat sekolah maupun di tingkat Perguruan Tinggi 
  3. Aspek-aspek dari masing-masing disiplin Ilmu Sosial seperti contohnya aspek ilmu Sejarah perlu di seleksi dan disesuaikan dengan tujuan pendidikan/pembelajaran tersebut.
Antara tahun 1940-1950 NCSS mendapat serangan pertanyaan yaitu penting atau tidaknya Social Studies menanamkan nilai dan sikap demokratis kepada para pemuda. Hal ini terjadi karena adanya tuntutan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam masyarakat yang demokratis.

Pada tahun 1960-an, muncul suatu gerakan akademis yang secara khusus dapat dipandang sebagai suatu perubahan yang cukup mendasar di dalam Social Studies. Gerakan akademis tersebut dikenal sebagai gerakan The New Social Studies dan dipelopori oleh para sejarawan dan ahli-ahli Ilmu Sosial. 

Tahun 1940-1960 terjadi tarik menarik antara dua visi Social Studies, yaitu adanya gerakan yang menginginkan rumpun-rumpun sosial di integrasikan atau disatukan, di pihak ada pula yang menginginkan rumpun-rumpun sosial ini dipisahkan, namun hal ini cenderung akan memperlemah konsepsi pelajaran dalam Social Studies.

Tahun 1955 terjadi terobosan yang besar dari Maurice Hunt dan Lawrence Metcalf yang mencoba cara baru dalam menyatukan pengetahuan dan keterampilan Ilmu Sosial untuk tujuan Citizenship Education. Menurut mereka program Social Studies di sekolah seharusnya tidak di organisasikan menjadi rumpun-rumpun sosial secara terpisah, tetapi siswa diarahkan untuk melihat gejala-gejala sosial yang ada di masyarakat guna melatih para siswa untuk dapat mengambil keputusan mengenai masalah-masalah yang ada di masyarakat dan melatih keterampilan reflective thinking.

Gerakan The New Social Studies menjadi pilar perkembangan Social Studies pada tahun 1960, titik tolaknya dari kesimpulan bahwa Social Studies sebelumnya dinilai sangat tidak efektif dalam mengajarkan substansi dan memengaruhi perubahan sikap siswa. Maka dari itu para ahli sosial dan sejarawan bersatu dan merumuskan Social Studies ke taraf "higher level of intellectual pursuit".

Pada akhir 1960-an tercatat adanya perubahan dari orientasi pada disiplin akademik yang terpisah-pisah ke satu upaya untuk mencari hubungan Interdisipliner.

Selasa, 21 Mei 2013

Hakikat dan Karakteristik Pendidikan IPS

A. Hakikat Konsep Dasar IPS

Pada kenyataannya, perkembangan hidup seseorang mulai dari saat ia lahir sampai menjadi dewasa tidak dapat terlepas dari masyarakat. Kehidupan sosial manusia di masyarakat meliputi aspek-aspek hubungan sosial, ekonomi, psikologi, budaya, sejarah, geografi, dan politik. Karena setiap aspek kehidupan sosial itu mencakup lingkup yang luas, maka cara mempelajari dan mengkajinya harus menggunakan bidang-bidang ilmu yang khusus. Melalui ilmu-ilmu sosial itu pula dikembangkan bidang-bidang ilmu tertentu sesuai dengan aspek kehidupan sosial masing-masing.

Dalam bidang pengetahuan sosial ada 3 istilah yang sudah biasa kita dengar, yaitu:
  • Ilmu Sosial ( Social Science)
Pendekatan yang digunakan dalam Ilmu Sosial bersifat Interdisipliner yaitu hanya ditinjau dari satu rumpun pelajaran saja. Contohnya disiplin Ilmu Antropologi
  • Studi Sosial (Social Studies) 
Studi sosial bukanlah suatu bidang keilmuan atau disiplin bidang akademis, tetapi merupakan suatu bidang yang mengkaji tentang gejala dan masalah sosial yang terjadi pada masyarakat. Karena bukan merupakan bidang keilmuan  kerangka kerja Studi Sosial ini tidak menekankan pada bidang teoritis, namun lebih kepada bidang-bidang praktis. Pendekatan yang digunakan dalam Studi Sosial bersifat Interdisipliner atau bersifat Multidispliner dengan menggunakan berbagai bidang keilmuan. Studi Sosial sifatnya lebih mendasar karena dapat disajikan kepada tingkat yang lebih rendah, mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
  • Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
IPS lebih menekankan kepada pendekatan Multidisipliner atau Interdisipliner dari bidang ilmunya masing-masing. Yaitu pendekatan yang komprehensif dari berbagai rumpun pelajaran. Seperti Ilmu Hukum, Ilmu Politik, Ilmu Ekonomi, Ilmu Sosial lain seperti Geografi, Sejarah, Antropologi, dan lainnya. Topik-topik dalam IPS dapat dimanipulasi menjadi suatu isu, pertanyaan atau permasalahan yang bersudut pandang Interdisiplin. Misalnya, didalam Geografi tentang pencemaran lingkungan, dampak dari pencemaran lingkungan ini dapat dikaji secara Ekonomi, Sosial Kemasyarakatan, Politik, Hukum, dan lainnya.

Dalam hal ini kita dapat melihat keseluruhan IPS sebagai sarana pendidikan yang memaparkan manusia didalam segi tiga waktu-ruang-hidup. Sebagaimana studi Sejarah yang membicarakan "Man in Time", Geografi membicarakan "Man in Space"dan gabungan dari Sosiologi, Antropologi, Ekonomi, dan Tata Negara yang membicarakan "Man in Life." Apabila digambarkan hubungan ketiganya adalah transmisi budaya, adaptasi ekologis, dan perjuangan hidup.

Selain ke-3 istilah diatas, ada istilah lain yang kadang-kadang digunakan dalam menyebut bidang studi IPS yaitu: Social Education dan Social Learning. Kedua istilah ini menurut Cheppy lebih menitikberatkan kepada berbagai pengalaman di sekolah yang dipandang dapat membantu anak didik mampu bersosialisasi di masyarakat.

Terdapat perbedaan antara Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai bidang studi dengan disiplin Ilmu-ilmu Sosial (Social Sciences), antara lain: 
  1. IPS bukan sebagai disiplin ilmu seperti Ilmu-ilmu Sosial (IIS), tetapi IPS lebih tepat sebagai suatu bidang kajian. Yaitu kajian tentang masalah-masalah kemasyarakatan.
  2. Pendekatan yang dilakukan IPS adalah pendekatan Multidisipliner atau Interdisipliner, sedangkan IIS menggunakan pendekatan disiplin ilmu atau Monodisiplin.
  3. IPS sengaja dirancang untuk kepentingan pendidikan, karena itu keberadaannya lebih memfokuskan pada dunia persekolahan. Sedangkan IIS keberadaannya bisa di dunia persekolahan, perguruan tinggi, bahkan juga dipelajari di masyarakat umum.
  4. IPS disamping menggunakan IIS sebagai bahan pengembangan materi pembelajaran, dilengkapi dengan mempertimbangkan aspek psikologis-pedagogis. Selain itu IPS juga sangat memperhatikan dan mempertimbangkan kemanfaatan, urutan, dan ruang lingkup bahan bagi setiap peserta didik dalam hidup dan untuk mempersiapkan kehidupannya kelak. Tidak seperti halnya IIS yang tidak mempermasalahkan pertimbangan-pertimbangan tersebut.
Pembelajaran IPS di sekolah bertujuan untuk mempersiapkan para peserta didik sebagai warga negara yang menguasai pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang dapat digunakan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah pribadi atau sosial serta mampu mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan sehingga ia sadar akan tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Melangkah dari masa lalu

Jika Anda mengalami trauma pada masa lalu yang begitu membekas. Trauma ini lantas Anda gunakan sebagai 'kambing hitam' atas keterpur...