Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pengetahuan Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pengetahuan Sosial. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juni 2013

Sumber dan Media Pembelajaran IPS

1. Sumber Media Pembelajaran Kontekstual dan Elektronik
1.1. Media Pembelajaran kontekstual IPS di SD

Dewasa ini media pendidikan memiliki peranan penting di dalam proses pembelajaran. Dunia pendidikan menuntut penggunaan media pendidikan dari yang sederhana sampai yang canggih. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber informasi dalam pembelajaran karena siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber, misalnya lingkungan sekitar, buku literature, TV, surat kabar, majalah, dan jaringan internet.

Masalahnya sekarang apakah guru IPS sudah memanfaatkan berbagai media sebagai sumber pembelajaran secara efektif?

Pengertian Media

Media berasal dari bahasa latin, yang merupakan bentuk jamak dari “medium” yang berarti perantara atau alat (sarana) untuk mencapai sesuatu.

Assosiation for Education and Communication Technology (AECT) mendifinisikan media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk sesuatu proses penyaluran informasi.

Sedangkan Education Assiciation (NEA) mendifinisikan media sebagai benda yang dapat di manipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional.

Lebih jelas lagi Koyo K dan Zulkarimen Nst (1983) mendefinisikan media sebagai berikut: “Media adalah sesuatu yang dapat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemampuan seseorang sehingga dapat mendorong tercapainya proses belajar pada dirinya”.

Husain Achmad menyatakan bahwa media pendidikan pengertiannya identik dengan peragaan.

Oemar Hamalik menyatakan bahwa media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.

Sedangkan media pengajaran menurut Kosasih Djahiri, 1978/1979 : 66 adalah segala alat bantu yang dapat memperlancar keberhasilan mengajar. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar, guru harus selalu menghubungkan alat bantu mengajar dengan kegiatan mengajarnya.

Pendekatan Kontekstual

Kontekstual diambil dari kata asalnya dalam Bahasa Inggris, yaitu contekstual yang berarti memiliki hubungan dengan konteks atau dalam konteks, yang berkenaan, relefan, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti konteks, yang membawa maksud, makna, dan kepentingan (meaningful).

Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu, baik secara individu maupun kelompok.

Pendekatan kontekstual Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru yang mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota kelurga dan masyarakat.

Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran.

Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi pendidik (guru) dengan peserta didik (siswa), untuk mencapai tujuan pendidikan yang berlangsung dalam ungkapan tertentu. Interaksi ini disebut interaksi pendidikan, yaitu saling pengaruh antara pendidik dengan peserta didik.

Minggu, 09 Juni 2013

Penilaian dan Pengajaran Keterampilan Abad 21

Keterampilan Belajar Abad 21 Untuk Melatih Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah Melalui Sistem Pembelajaran Berbasis ICT (Information and Communication Technology)

Abad 21 yang dikenal semua orang sebagai abad pengetahuan yang merupakan landasan utama dari segala aspek kehidupan. Paradigma pembelajaran abad 21 menekankan kepada kemampuan siswa untuk berpikir kritis, mampu menghubungkan ilmu dengan dunia nyata, menguasai teknologi informasi komunikasi, dan berkolaborasi. Pencapaian keterampilan tersebut dapat dicapai dengan penerapan metode pembelajaran yang sesuai dari sisi penguasaan materi dan keterampilan.

Kemampuan menghubungkan ilmu dengan dunia nyata dilakukan dengan mengajak siswa melihat kehidupan dalam dunia nyata. Memaknai setiap materi ajar terhadap penerapan dalam kehidupan penting untuk mendorong motivasi belajar siswa. Secara khusus pada dunia pendidikan dasar yang relatif masih berpikir konkrit, kemampuan guru menghubungkan setiap materi ajar dengan kehidupan nyata akan meningkatkan penguasaan materi oleh siswa. (Patrick Griffin & Barry McGaw. 2012)

Untuk memasuki New world of work pada abad 21, Keterampilan belajar abad 21 mempunyai ciri:
  1. Critical thinking and problem solving.
  2. Creativity and innovation.
  3. Collaboration, teamwork, and leadership.
  4. Cross-cultural understanding, communications, information, and media literacy.
  5. Computing and ICT literacy.
  6. Career and learning self-reliance.
Ada 4 kategori keterampilan yang diperlukan pada abad 21 diantaranya sebagai berikut :
  1. Ways of thinking (Cara berpikir); Kreativitas, berpikir kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan belajar.
  2. Ways of working (Cara kerja dan Komunikasi); Kolaborasi dan Komunikasi (communication).
  3. Tools for working (Alat untuk bekerja); Teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dan informasi literasi.
  4. Skills for living in the world (Keterampilan untuk hidup di dunia); Kewarganegaraan - lokal dan global (citizenship – local and global), Kehidupan dan karier (life and career), Personal dan tanggung jawab sosial-budaya, termasuk kesadaran dan kompetensi (personal and social responcibility, including cultural awarness and competence).
Beberapa karakter belajar yang diperlukan di abad ke-21, yaitu :
  1. Communication. Pada karakter ini, siswa dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia.
  2. Collaboration. Pada karakter ini, siswa menunjukkan kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan; beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab; bekerja secara produktif dengan yang lain; menempatkan empati pada tempatnya; menghormati perspektif berbeda.
  3. Critical Thinking and Problem Solving. Pada karakter ini, siswa berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit; memahami interkoneksi antara sistem.
  4. Creativity and Innovation. Pada karakter ini, siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain; bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.
Bentuk pembelajaran berbasis ICT memberikan manfaat bagi para guru diantaranya sebagai berikut : 
  1. Memperoleh materi pembelajaran dengan akses lebih mudah. Guru dalam melakukan persiapan mengajar akan lebih ringan karena guru dapat langsung menyeleksi, menyalin dan mengedit materi yang akan disajikan;
  2. Meningkatkan kompetensi pedagogik pendidik, salah satunya kreativitas serta inovasi mengembangkan konten pembelajaran;
  3. Guru dapat menyusun materi sesuai dengan kebutuhan peseta didik akan kehidupan nyata; dan
  4. Meningkatkan komunikasi interaktif dengan para peserta didik tanpa batas ruang dan waktu.
Peran Standar Evaluasi dalam Pengembangan Keterampilan Abad 21

Standarisasi berbasis evaluasi memberikan bukti empiris untuk menilai kinerja dan dapat melayani berbagai pengambilan keputusan demi mencapai tujuan (akuntabilitas, seleksi, penempatan, evaluasi, diagnosis, atau perbaikan), evaluasi yang telah dilakukan di masa lalu seperti telah menemukan efek yang cukup seragam, yaitu :
  1. Evaluasi menjadi prioritas kurikulum dan pengajaran, sandaran visibilitas berfungsi untuk memfokuskan standar isi pendidikan.
  2. Guru cenderung menggunakan pendekatan model pedagogis high visibility yang bergantung pada tes.
  3. Instruksi yang telah digunakan lebih menekankan keterampilan kognitif tingkat rendah.
  4. Pengembang kurikulum khususnya untuk kepentingan komersial, menanggapi tes penting dengan memodifikasi buku yang ada dan bahan ajar lainnya atau pengembangan dan pemasaran buku-buku baru.
  5. Sekolah dan guru terlalu fokus pada aspek-aspek yang akan diujiankan bukan pada apa yang menjadi standar atau tujuan pembelajaran.
  6. Evaluasi lebih difokuskan pada tes bukan pembelajaran yang mendasarinya.
  7. Pembelajaran instruksional diarahkan pada tes, sekolah memberikan para siswa berbagai jenis tes mulai dari kegiatan ujian “komersial”, kelas khusus, pekerjaan rumah, dan lain-lain.
  8. Desain dan pengembangan evaluasi harus menyatukan dasar penelitian yang kaya ada pada proses siswa belajar dan bagaimana itu berkembang untuk menghasilkan generasi baru.

Sabtu, 08 Juni 2013

[Download PPT] Model Pembelajaran IPS

Model Pembelajaran IPS ialah sebagai desain pembelajaran inkuiri (inquiry approach). Yaitu sebagai sebuah metode mengajar yang berorientasi pada latihan meneliti dan mempertanyakan, istilah ini sejajar dengan metode pemecahan masalah, berfikir reflektif dan atau "discovery" (Hagen, 1969).

Di bawah ini merupakan materi Model Pembelajaran IPS dari bapak Ibnu Hurri, H. S.sos
  1. Model Pembelajaran IPS - Bagian 1 ( Download )
  2. Model Pembelajaran IPS - Bagian 2 ( Download )

Jumat, 07 Juni 2013

[Bahan Ajar] Gejala/Peristiwa Alam yang Terjadi di Indonesia

Beberapa waktu lalu kami (mahasiswa) di tugaskan untuk membuat bahan ajar IPS oleh bapak Ibnu Hurri, tugas ini lumayan menguras tenaga dan fikiran, alasannya banyak, salahsatunya karena kami belum terbiasa membuat bahan ajar seperti ini.

Bahan ajar ini tentang "Gejala/Peristiwa Alam yang Terjadi di Indonesia," untuk SD kelas VI semester 2, 

Di bawah ini saya cantumkan link download bagi teman-teman yang ingin membaca, saya juga dengan senang hati akan mendengar tanggapan atau komentar dari teman-teman untuk perbaikan tugas ini dan sebagai acuan saya untuk membuat bahan ajar selanjutnya.
  1. Bahan Ajar ( Download )
  2. Bahan Ajar ppt ( Download )

Kamis, 06 Juni 2013

[Book Report] "Ecological Literacy" karya David W. Orr dan Fritjof Capra

Buku Ecological Literacy karya David W. Orr dan Fritjof Capra adalah buku yang menjelaskan tentang re-orientasi cara manusia hidup di Bumi serta mendidik anak-anak untuk memiliki kemampuan yang tinggi. Buku ini dinilai menjadi sebuah terobosan baru karena menyatakan pemikir dan pendidik memiliki banyak kesamaan, sehingga pendidik dapat disebut pemikir atau peneliti.

Melek Ekologi (juga disebut sebagai Ecoliteracy) adalah kemampuan untuk memahami sistem alam yang mendukung kehidupan di bumi. Melek ekologi ini sering disebut sebagai Kesadaran Ekologi. Kesadaran ekologi digunakan sebagai sarana untuk memahami prinsip-prinsip organisasi ekologi (yaitu ekosistem) serta penggunaan prinsip-prinsip untuk menciptalan komunitas manusia yang berkelanjutan. Istilah melek ekologi/sadar ekologi ini diciptakan oleh seorang pendidik dari Amerika yang bekerja di Pusat Ecoliteracy di Berkeley, California, dan fokus pada disiplin ilmu pendidikan lingkungan, yaitu David W. Orr dan Fisikawan Fritjof Capra pada tahun 1990-an. Mereka berdua memunculkan nilai baru dalam pendidikan, nilai tersebut dianggap dapat "menyejahterakan bumi."

Fokus pembelajaran melek ekologi ini menekankan pemahaman prinsip-prinsip dari organisasi ekosistem dan penerapan potensi mereka untuk memahami bagaimana membangun masyarakat manusia berkelanjutan. Menurut Fritjof Capra, "Dalam dekade mendatang, kelangsungan hidup umat manusia akan tergantung pada kesadaran ekologi kita serta kemampuan kita untuk memahami prinsip-prinsip dasar ekologi dan hidup yang sesuai. Ini berarti kesadaran akan ekologi yang harus menjadi keterampilan paling penting bagi politisi, pemimpin bisnis, dan profesional di semua bidang, serta harus menjadi bagian paling penting dari pendidikan di semua tingkat, dari sekolah dasar dan menengah, untuk perguruan tingggi, dan pendidikan berkelanjutan serta pelatihan profesional."

David W. Orr menyatakan bahwa, "Tujuan melek ekologi adalah dibangun berdasarkan pengakuan bahwa gangguan ekosistem mencerminkan gangguan pikiran seseorang atau suatu lembaga, karena gangguan ekosistem tersebut menjadi pusat perhatian bagi lembaga-lembaga yang berkepentingan, hingga nantinya lembaga-lembaga tersebut serius memikirkan permasalahan ekologi yang terjadi serta mencari penyelesaiannya."

Dengan kata lain, krisis ekologi mencakup di dalamnya tentang krisis pendidikan. Semua pendidikan berkaitan dengan pendidikan lingkungan. Hal tersebut disebabkan karena kita semua berasal dan hidup di alam. Dengan memahami melek ekologi, secara alami menggeser persepsi yang selama ini ada. Kebutuhan untuk melindungi ekosistem bukan hanya sebuah keyakinan yang dipegang oleh seseorang dalam kepedulian terhadap lingkungan, akan tetapi merupakan suatu keharusan biologis dalam upaya bertahan hidup dari waktu ke waktu. Hal inilah yang dinilai akan menjadi prioritas dalam prinsip dasar pemikiran serta tindakan dalam masyarakat yang berkelanjutan.

Buku ini juga menjelaskan tentang usaha dalam menghadapi peningkatan sistem industri yang menyebabkan penghancuran habitat dan sistem iklim, yaitu deklarasi prinsip-prinsip melek ekologi dan peningkatan kesadaran akan pentingnya hidup dengan menjaga ekologis bumi.

Usaha tersebut dapat dilihat dan diterapkan dalam hubungan sistem pendidikan, yaitu keluarga, geografis, ekologis dan politik. Semua itu adalah upaya kita untuk membangun masyarakat yang berkelanjutan. Usaha membangun masyarakat yang berkelanjutan tersebut tidak dapat berhasil kecuali generasi mendatang mau belajar bagaimana bekerja sama dengan sistem alami untuk saling menguntungkan mereka. Dengan kata lain, mereka dituntut harus menjadi "melek ekologis."

Laporan dan essay-essay yang dikumpulkan dalam buku ini mengungkapkan karya yang luar biasa tentang lingkungan dalam dunia pendidikan yang dilakukan oleh para mitra sang penulis. Dalam satu sekolah menengah misalnya, ikon kuliner, Alice Waters mendirikan sebuah program yang tidak hanya menyediakan para siswa makanan sehat tetapi mengajarkan mereka untuk berkebun. Dengan demikian secara otomatis mereka dapat mempelajari secara langsung siklus hidup dan aliran energi sebagai bagian dari kurikulum mereka.

Penulis yang lain pun mengemukakan proyek siswa yang didukung oleh pusat pendidikan dan digambarkan dalam buku ini, seperti pembahasan dari restorasi sungai dan eksplorasi DAS untuk menghadapi isu-isu keadilan lingkungan di tingkat perumahan.

Dengan kontribusi dari penulis terkemukan dan pendidik, seperti Fritjof Capra, Ann Evans, Wendell Berry, Michael Ableman dan lain-lainnya mengakibatkan Literasi Ekologis yang menghubungkan teori dan praktek berdasarkan pemikiran terbaik tentang bagaimana dunia benar-benar bekerja dan bagaimana pembelajaran terjadi.

Orang tua dan pendidik yang terlibat dalam upaya-upaya kreatif untuk mengembangkan kurikulum baru dan meningkatkan pemahaman ekologi anak-anak, akan menganggap buku ini sebagai sebuah sumber daya yang berharga.

Buku ini mampu menunjukkan Pusat Ecoliteracy berada di barisa depan dari gerakan yang mengajarkan kita untuk menemukan koneksi pada masalah yang tampaknya terputus-putus, memandang pola bukannya potongan dan komunitas desain berdasarkan keterkaitan dari semua kehidupan.

Kelompok kami, yaitu kelompok 4 berkesempatan untuk menganalisis dan memberi ringkasan materi tentang "AKSI" yang ada pada BAB 4 buku  ECOLOGICAL LITERACY karya MICHAEL K. STONE dan ZENOBIA BARLOW.

Seperti yang kita ketahui, buku Ecological Literacy menceritakan tentang kepedulian dan kesadaran terhadap lingkungan di dunia pendidikan. Bab 4 ini lebih berfokus pada aksi atau tindakan nyata yang berhubungan dengan upaya kepedulian atau kesadaran lingkungan khususnya dalam bidang pendidikan.

Dibawah ini saya cantumkan pembahasan selengkapnya, apabila teman-teman bermaksud menggunakannya untuk kepentingan tugas teman-teman, saya mohon bersikaplah bijaksana dengan mencantumkan link blog ini. Terimakasih :)
  1. Bab Pendahuluan ( Download )
  2. Bab Pembahasan ( Download )
  3. Bab Kesimpulan ( Download )

Rabu, 05 Juni 2013

Analisis KTSP dan Kurikulum 2013

Maraknya pemberitaan tentang Kurikulum 2013 yang menimbulkan pro dan kontra, menjadi topik hangat yang banyak dibicarakan oleh para praktisi pendidikan baik di tingkat daerah maupun di tingkat Nasional. Hal ini karena Kurikulum sebelumnya, yaitu KTSP dinilai oleh sebagian orang sesuai dan layak diterapkan lebih lama lagi dalam pendidikan di Indonesia, namun sebagian orang lainnya menilai KTSP sudah harus diganti untuk menghadapi perkembangan dan tantangan jaman.

Kelompok kami yang beranggotakan : Rahmadhani Annisa N, Alfiska Oktayati, Apriliani, Hani Rahayu, Ai Rahmawati, Puti Ekowati Utami, Mira Nurlatifah, Dea Sri Mei Pratiwi, Wilda Nurul Huda, Venny Erliyani, Ema Rahmawati, Risqi Oktaviani, Desy Ismayanti, Linggar Jati, Silmi Silawati, Durahman, Fiska Lestari dan Argi Gilang Hudaeva, mencoba menganalisis kekurangan dan kelebihan dari kedua bentuk kurikulum tersebut. Dibawah ini saya cantumkan hasil analisis kami, apabila teman-teman ingin mendownload silahkan tetapi mohon untuk mencantumkan link sumbernya!
  1. Pendahuluan ( Download )
  2. Pembahasan ( Download )
  3. Kesimpulan ( Download )
  4. Daftar Pustaka ( Download )

Selasa, 04 Juni 2013

[Analisis Kasus] Kebiasaan anak jalanan yang suka ngelem dan tawuran pelajar

Kasus :
  1. Kebiasaan anak jalanan yang suka ngelem
  2. Tawuran pelajar
Dari kedua kasus tersebut saya menilai bahwa adanya kekaburan nilai terhadap anak-anak bangsa. Kekaburan nilai artinya hilangnya nilai-nilai luhur budaya bangsa. Kekaburan nilai tersebut disebabkan karena kurangnya kepedulian dari berbagai pihak untuk menanamkan norma yang baik terhadap pelaku. 

Dari kasus yang pertama tentang anak jalanan, mereka bukan hanya terbiasa ngelem, tetapi juga berbicara kotor dan kasar. Hal ini mungkin karena pengaruh dari lingkungan mereka sehari-hari.

Fict from here

Kasus yang kedua tentang tawuran pelajar, yang beberapa waktu lalu menelan korba jiwa juga merupakan potret buruk pendidikan dan merupakan kelalaian berbagai pihak dalam hal ini keluarga, sekolah, pemerintah dan masyarakat luas.

Fict from here

Sebuah artikel yang ditulis oleh Nadia Juli Indrani (Biologi 2007) di sebuah blog http://alhayaat.wordpress.com menyebutkan bahwa alasan anak-anak jalanan ngelem bermacam-macam, ada yang untuk menahan lapar dan adapula yang hanya mengikuti teman-temannya. Karena hal tersebut, sangat penting bagi pemerintah untuk mendirikan rumah-rumah singgah, hal ini berkaitan dengan Pasal 34 ayat 1 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa "Fakir miskin dan anak-anak yang terlantur dipelihara oleh negara."

Dalam kasus tawuran pelajar, bukan hanya peran sekolah yang diperlukan, tetapi peran keluarga juga sangat penting. Namun saat ini, akibat dari pengaruh globalisasi dalam kehidupan khususnya dalam bidang komunikasi, ekonomi, politik dan teknologi menyebabkan pergeseran nilai kehidupan yang juga berakibat pada keluarga, yaitu perubahan dalam hubungan antara orangtua dan anak dan hal ini berpengaruh juga terhadap pandangan dan fungsi-fungsi keluarga.

Sayiful Bahri Djamarah (2004 : 55) mengemukakan bahwa "Kehidupan keluaarga yang harmonis perlu dibangun diatas dasar sistem interaksi yang kondusif. Pendidikan dasar yang baik harus diberikan kepada anggota keluarga sedini mungkin dalam rangka memerankan fungsi pendidikan dalam keluarga, yaitu menumbuhkembangkan potensi laten anak, sebagai wahana untuk mentransfer nilai-nilai dan sebagai agen transformasi kebudayaan."

Interaksi didalam keluarga sangat penting karena akan mempengaruhi satu sama lain. Interaksi antara anak dengan orangtua akan membentuk gambaran-gambaran tertentu pada masing-masing pihak sebagai hasil dari komunikasi. Anak akan mempunyai gambaran tertentu mengenai orangtuanya. Dengan adanya gambaran tersebut maka akan terbentuk juga sikap-sikap tertentu dari masing-masing pihak.

Kurangnya interaksi antara orangtua dengan anak bisa disebabkan karena kesibukan bekerja, menyebabkan fungsi pendidikan dalam keluarga terabaikan, anak jadi lebih sering bersama teman-temannya, hal ini berpengaruh terhadap perkembangan sikap anak karena pada usia tersebut biasanya ada keinginan menunjukan diri, jika lingkungan tempat mereka bergaul buruk, maka terjadilah penyimpangan seperti tawuran.

Karena adanya kekaburan nilai seperti yang disebutkan di awal, harus diperbaiki dengan pendidikan nilai. Dikutip dari tulisan H. Sofyan Sauri yang menyatakan bahwa "Pendidikan nilai dimaksudkan untuk membantu anak didik agar memahami, meyadari dan mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannya secara integral dalam kehidupan."

Didalam IPS, pendidikan nilai juga bertujuan agar pendidikan tidak hanya diarahkan pada ranah Kognitif nya saja, tetapi juga Apektif dan Psikomotor nya. Selain menanamkan norma yang baik yaitu dengan pendidikan nilai, keterlibatan dari berbagai pihak juga sangat diperlukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Referensi :
http://alhayaat.wordpress.com/2009/09/21/anak-jalanan-dan-tuntutan-kepedulian/
Powerpoint tentang "Konsep Dasar IPS" oleh bpk. Ibnu Hurri, H. S.sos

Senin, 03 Juni 2013

Pengertian Pendidikan, IPS, dan Pendidikan IPS

Pengertian Pendidikan

Menurut Langeveld, pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap pihak lain yang belum dewasa agar mencapai kedewasaan (M. I. Soelaiman, 1985).

Menurut W. P. Napitulu, pendidikan adalah kegiatan yang secara sadar, teratur dan terencana dalam tujuan mengubah tingkah laku kearah yang diinginkan.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Menurut Edgar Dalle, pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang.

Menurut Hartoto, pendidikan adalah usaha sadar, terencana, sistematis dan terus menerus dalam upaya memanusiakan manusia.

Pengertian IPS

Menurut Moeljono Cokrodikardjo, IPS adalah perwujudan dari suatu pendekatan interdisipliner dari ilmu sosial. IPS merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial yakni Sosiologi, Antropologi, Budaya, Psikologi, Sejarah, Geografi, Ekonomi, Ilmu Politik dan Ekologi Manusia yang diformulasikan untuk tujuan instruksional dengan materi dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari.

Menurut Nu'man Soemantri, IPS merupakan pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk pendidikan tingkat SD, SLTP, dan SLTA. Penyederhanaan mengandung arti :
  1. Menurunkan tingkat kesukaran ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di Universitas menjadi pelajaran yang sesuai dengan kematangan berfikir siswa-siswi sekolah dasar dan lanjutan.
  2. Mempertautkan dan memadukan bahan aneka cabang ilmu-ilmu sosial dan kehidupan masyarakat sehingga menjadi pelajaran yang mudah dicerna.
Menurut A. Kosasih Djahiri (1979 : 2), IPS merupakan ilmu yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang-cabang ilmu sosial dan ilmu lainnya, kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan dan didaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan.

Menurut S. Nasution, IPS sebagai pelajaran yang merupakan fusi atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dinyatakan bahwa IPS merupakan bagian kurikulum sekolah yang berhubungan dengan peran manusia dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai subjek Sejarah, Ekonomi, Geografi, Sosiologi, Antropologi dan Psikologi Sosial.

Pengertian Pendidikan IPS

Menurut Somantri (Sapriya, 2008 : 9), pendidikan IPS adalah penyederhanaan atau disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.

Menurut Depdikbud 1983, pendidikan IPS pada hakikatnya adalah pendidikan interelasi aspek-aspek kehidupan manusia di masyarakat. Hakikatnya materi digali dari kehidupan sehari-hari yang nyata dalam kehidupan siswa dan masyarakat. Pendidikan IPS merupakan proses pengajaran yang memadukan berbagai pengetahuan sosial.



Referensi :
http://massofa.wordpress.com/2010/12/09/pengertian-ruang-lingkup-dan-tujuan-ips/
http://fatamorghana.wordpress.com/2009/10/07/pengertian-pendidikan/
http://utuy-semrawut.blogspot.com/2012/01/pengertian-pendidikan-menurut-para-ahli.html
http://repository.upi.edu/operator/upload/s_pgsd_0805741_chapter2.pdf
http://oktaseiji.wordpress.com/2011/04/24/konsep-dasar-ips-dan-ilmu-ilmu-sosial-dalam-pembelajaran/
http://blog.sunan-ampel.ac.id/heni/files/2010/10/IPS-1-Paket-1.pdf

Minggu, 02 Juni 2013

[ Jurnal ] "Peran Keluarga dalam Membantu Menumbuhkan Sikap Kepedulian Sosial pada Anak SD"

Dibawah ini merupakan jurnal penelitian dengan judul "Peran Keluarga dalam Membantu Menumbuhkan Sikap Kepedulian Sosial pada Anak SD" Penelitian dilakukan di SD Negeri Cipari Desa Kebon Pedes Kecamatan Kebon Pedes Kabupaten Sukabumi, oleh :
  1. Wilda Nurul Huda
  2. Dea Sri Mei Pratiwi
  3. Rijal Haryanto
  4. Ema Rahmawati
  5. Ai Rahmawati
  6. Mira Nurlatifah
Apabila dari teman-teman ada yang ingin mendownload dipersilahkan, dan kami mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman yang bersifat membangun untuk pembuatan jurnal selanjutnya.
  1. Cover ( Download )
  2. Kata Pengantar ( Download )
  3. Daftar Isi ( Download )
  4. BAB I ( Download )
  5. BAB II ( Download )
  6. BAB III ( Download )
  7. BAB IV ( Download )
  8. BAB V ( Download )
  9. Daftar Pustaka ( Download )
  10. Lampiran ( Download )


Sabtu, 01 Juni 2013

Download Materi IPS (PPT)

Dibawah ini merupakan materi IPS dalam bentuk PPT dari bapak Ibnu Hurri, H. S.sos
  1. M-1 Paradigma Baru IPS ( Download )
  2. M-2 Perubahan dan Konflik Sosial ( Download )
  3. M-3 Manusia dan Lingkungan ( Download )
  4. M-4 Kelembagaan ( Download )

Jumat, 31 Mei 2013

Masyarakat

Masyarakat menurut Koentjaraningrat (1990 : 146) adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat terus-menerus dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

Menurut Ralph Linton dalam bukunya yang berjudul Study of Man, masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berpikir tentang dirinya sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.

Menurut Paul B. Horton, masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, yang hidup bersama-sama cukup lama, yang mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama dan melakukan sebagian besar kegiatan dalam kelompok itu.

Ciri-ciri pokok dari masyarakat, yaitu :
  1. Manusia yang hidup bersama sekurang-kurangnya terdiri atas 2 orang.
  2. Bercampur atau bergaul dalam waktu yang cukup lama. Berkumpulnya manusia akan menimbulkan manusia-manusia baru sebagai akibat hidup bersama itu, timbul sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antar manusia.
  3. Sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan.
  4. Merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena mereka merasa dirinya terkait satu dengan yang lainnya.
  5. Melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya.
Unsur-unsur terbentuknya suatu masyarakat antara lain :
  1. Terdapat sekumpulan orang
  2. Berdiam atau bermukim di suatu wilayah dalam waktu yang relatif sama atau waktu yang lebih lama.
  3. Perekrutan seluruh atau sebagian anggotanya melalui reproduksi atau kelahiran.
  4. Kesetiaan pada suatu sistem tindakan utama secara bersama-sama.
  5. Adanya sistem tindakan utama yang bersifat swasembada.
  6. Akibat hidup bersama dalam jangka waktu yang lama menghasilkan kebudayaan berupa sistem nilai, sistem ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Masyarakat secara garis besar menyangkut 3 aspek, yaitu :
  1. Struktur Sosial. Keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, seperti kaidah-kaidah sosial (norma sosial), lembaga sosial, kelompok sosial dan lapisan sosial (pranata sosial).
  2. Proses Sosial. Pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama.
  3. Perubahan Sosial. Perubahan dalam struktur sosial dan jalinan hubungan dalam masyarakat



Referensi :
Materi ajar dari bpk Ibnu Hurri, H. S.sos

Kamis, 30 Mei 2013

Kelompok Sosial

Lahirnya kelompok sosial disebabkan oleh kebutuhan manusia untuk berhubungan, tapi tidak semua hubungan tersebut dapat dikatakan sebagai kelompok sosial. Soerjono Soekanto (1982 : 111) mengemukakan beberapa persyaratan terbentuknya kelompok sosial, yaitu :
  1. Adanya kesadaran dari anggota kelompok tersebut bahwa ia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan.
  2. Adanya hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan yang lainnya dalam kelompok.
  3. Adanya suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok yang bersangkutan yang merupakan unsur pengikat atau pemersatu. Faktor tersebut dapat berupa nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama ataupun ideologi yang sama.
  4. Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku.
Mac Iver (1961 : 213) menyatakan bahwa "Kelompok sosial terbentuk melalui proses interaaksi dan sosialisasi, dimana manusia berhimpun dan bersatu dalam kehidupan bersama berdasarkan hubungan timbal balik, saling mempengaruhi dan memiliki kebersamaan untuk tolong menolong."

Proses yang berlangsung dalam kelompok sosial adalah "proses sosialisasi." Buhler (1968 : 172) menyatakan bahwa proses sosialisasi adalah "proses yang membantu individu dalam kelompok melalui belajar dan penyesuaian diri, bagaimana cara hidup dan berfikir kelompoknya agar ia dapat berperan serta berfungsi bagi kelompoknya."

Berdasarkan pengalaman dalam kelompok, manusia mempunyai sistem tingkah laku (behavior system) yang dipengaruhi oleh watak pribadinya. Sistem perilaku ini yang akan membentuk suatu sikap (attitude).

Klasifikasi Tipe-tipe Kelompok Sosial

Mac Iver dan Page (1957 : 213) menggolongkan kelompok sosial dalam beberapa kriteria, yaitu :
  1. Derajat interaksi sosial yang terjadi dalam kelompok tersebut.
  2. Besar kecil anggota kelompok tersebut.
  3. Sistem ide (ideologi) yang ada di dalam kelompok tersebut.
  4. Kepentingan atau tujuan kelompok tersebut.
  5. Wilayah geografis.
Simmel dalam Systematic Society mendasarkan pengelompokannya pada :
  1. Besar kecilnya jumlah anggota kelompok
  2. Cara individu dipengaruhi kelompoknya atau individu mempengaruhi kelompok.
  3. Interkasi sosial yang terjadi dalam kelompok tersebut.
Simmel memulainya dengan bentuk terkecil yang terdiri dari satu orang individu sebagai fokus hubungan sosial yang dinamakan "monad," lalu dua individu yang dinamakan "dyad" dan tiga individu yang dinamakan "triad." Ukuran lain dari klasifikasi kelompok sosial itu berdasarkan tingkat interaksi sosial yang terjadi dalam kelompok tersebut.

Kelompok Sosial dipandang dari sudut pandang Individu

Pembagian kelompok sosial dari sudut pandang individu dapat dilihat dari :
  1. Keterlibatan individu dalam kelompok tersebut
  2. Keanggotaan individu tidak selalu bersifat sukarela, tapi bisa bersifat wajib.
  3. Kelompok sosial juga bisa didasari oleh kekerabatan, usia, sex (gender), pekerjaan dan status sosial.
In Group dan Out Group

Menurut Polaj (1966 : 166) konsep In Group dan Out Group adalah "cerminan dari adanya kecenderungan sifat "entnocentris" dari individu-individu dalam proses sosialisasi sehubungan dengan keanggotaannya pada kelompok-kelompok sosial tersebut. Sikap dalam menilai kebudayaan lain dengan menggunakan ukuran-ukuran sendiri." Sikap mempercayai sesuatu ini yang disebut dengan "beliefs" yang diajarkan kepada anggota kelompok melalui proses sosialisasi, baik secara sadar atau tidak sadar.

Menurut Soerjono Soekanto (1984 : 120), sikap In Group biasanya didasari oleh perasaan simpati. Dalam In Group seringkali digunakan Stereotypen, yaitu gambaran-gambaran atau anggapan-anggapan yang bersifat mengejek terhadap suatu objek diluar kelompoknya. Out Group didasari oleh suatu kelainan dengan wujud antipati.

Primary Group dan Secondary Group

Charles Horton Cooley dalam Social Organization menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang luas dan mendasar dalam klasifikasi kelompok-kelompok sosial yang menyangkut perbedaan antar kelompok. Menurut Cooley Primary Group merupakan kelompok yang ditandai dengan ciri-ciri kenal-mengenal antara anggotanya serta kerjasama erat yang bersifat pribadi. Selo Soemarjan dan Soemardi (1964 : 604) dalam bukunya "Setangkai Bunga Sosiologi" menyatakan bahwa Primary Group merupakan kelompok kecil yang permanen berdasarkan saling mengenal secara pribadi diantara anggotanya.

Davis (1960 : 290) mengemukakan ciri-ciri khusus dari primary group sebagai berikut :
  1. Kondisi fisik. Cirinya adalah sifat saling kenal mengenal, kedekatan secara fisik dan emosional, adanya norma yang mengatur hubungan antara anggota-anggota dalam kelompok tersebut, dan kelompoknya biasanya kecil (anggotanya sedikit).
  2. Sifat hubungan primer. Bersifat kesamaan tujuan dari individu-individu dalam kelompok tersebut. Tujuan tersebut bersifat pribadi, spontan sentimental dan inklusif. Soekanto (1982 : 124) menyatakan bahwa sifat Inklusif adalag hubungan primer yang bersifat pribadi, mengandung arti hubungan tersebut melekat secara inheren pada kepribadian seseorang yang tidak mungkin digantikan oleh orang lain. Hubungan Inklusif didasarkan atas kesukarelaan dari pihak-pihak yang mengadakan hubungan tersebut. Sifat Inklusif juga berarti bahwa hubungan primer menyangkut segala sesuatu tentang perasaan, kepribadian dan tempramen.
  3. Kelompok-kelompok yang kongkret dan hubungan primer. Dalam kenyataan tidak ada primary group yang memenuhi hubungan ini secara sempurna. Hubungan primer yang masih murni biasanya terdapat pada masyarakat-masyarakat yang masih sederhana organisasinya, misalnya pada masyarakat pedesaan.
Rouceck dan Warren (1962 : 46) dalam "Sociology an Introduction" membatasi pengertian secondary group sebagai kelompok-kelompok besar yang terdiri dari banyak orang dan diantara individu itu tidak perlu saling mengenal secara pribadi dan sifatnya tidak langgeng.

Rabu, 29 Mei 2013

Individu

Apa itu individu? Individu berasal dari kata in-dividere yang berarti tidak dapat dibagi-bagi (Gerungan, 1981) atau sebagai sebutan bagi manusia yang berdiri sendiri, atau manusia perseorangan (Lysen, 1981). Individu yang dimaksud adalah insan (manusia). Aristoteles berpendapat bahwa manusia merupakan penjumlahan dari kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja sendiri seperti kemampuan-kemampuan Vegetatif (makan dan berkembang biak), kemampuan Sensitif (bergerak, bernafsu, perasaan dan mengamati) dan kemampuan Intelektif (kecerdasan).

Lain halnya dengan pendapat Descartes, bahwa manusia terdiri atas zat rohaniah ditambah zat materil. Akan tetapi, Willhem Wuntt menegaskan bahwa jiwa manusia itu materil merupakan suatu kesatuan jiwa raga yang berkegiatan sebagai keseluruhan. Individu dalam hal ini merupakan konsep sosiologi yang berarti bahwa konsep individu tidak boleh diartikan sama dengan konsep sosial. Individu itu memiliki arti yang agak berlainan. Jika dalam kehidupan sehari-hari individu menunjuk pada pribadi orang, sedangkan dalam Sosiologi individu menunjuk pada subjek yang melakukan sesuatu, yang mempunyai pikiran, yang mempunyai kehendak, kebebasan, memberi arti (meaning) pada sesuatu, yang mampu menilai tindakan dan hasil tindakannya sendiri.

Dengan kata lain, individu adalah subjek yang bertindak (aktor), subjek yang melakukan sesuatu hal, subjek yang memiliki pikiran, subjek yang memiliki keinginan, subjek yang memiliki kebebasan dan subjek yang memberi arti (meaning). Pada pengertian individu sebagai konsep Sosiologi, pengertian subjek menunjuk pada semua keadaan yang berhubungan dengan dunia internal manusia. Sedangkan konsep objek tidak terlalu berbeda jauh artinya dari yang diartikan dalam ilmu-ilmu alam, seperti batu, air dan semua benda pada umumnya. Secara biologis, pengaruh gen yang diwariskan orang tuanya atau bahkan leluhur sebelumnya sangat mempengaruhi kelahiran individu. Untuk melahirkan individu yang normal, selain dipengaruhi oleh gen juga sangat tergantung pada kondisi yang sehat di tempat calon individu itu dilahirkan. Kondisi sehat yang dimaksud adalah kondisi pranatalis di dalam rahim ibu.

Pertumbuhan dan perkembangan individu selanjutnya sangat dipengaruhi oleh berbagai masukan dari lingkungan sekitarnya. Salah satu lingkungan yang sehat adalah lingkungan pendidikan, melalui pendidikan individu dapat terbina dan terlatih potensinya. Nursid Sumaatmadja (1998) menyatakan bahwa "Kepribadian merupakan keseluruhan perilaku individu yang merupakan hasil interaksi antara ptensi-potensi bio-psiko-fisikal yang terbahwa sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan yang terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental-psikologisnya, jika mendapat rangsangan dari lingkungan."

Bagan Proses Pembentukan Individu menjadi Pribadi

Sumber : Nursid Sumaatmadja (1998 : 23)

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk individu yang tidak dapat melepaskan diri dari hubungan dengan sesama manusia lain di dalam menjalani kehidupan. Freedman (1962 : 112) menyatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak dilahirkan dengan kecakapan untuk "immadiate adaptation to environment" atau kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan segera terhadap lingkungan. Naluri manusia untuk selalu berhubungan dengan sesamanya ini dilandasi oleh alasan-alasan sebagai berikut :
  1. Keinginan manusia untuk menjadi satu dengan manusia lain disekelilingnya (masyarakat).
  2. Keinginan untuk menjadi satu dengan alam sekelilingnya.
  3. Naluri manusia untuk selalu hidup dengan yang lainnya disebut sebagai "gregariousness."


Referensi :
Materi ajar dari bpk Ibnu Hurri, H. S.sos


Selasa, 28 Mei 2013

Konsep pendidikan IPS di Indonesia dan Perkembangannya

Dalam wacana kurikulum sistem pendidikan di Indonesia terdapat tiga jenis program pendidikan sosial, yaitu:
  1. Program pendidikan ilmu-ilmu sosial (IIS) yang dibina pada fakultas-fakultas sosial murni,
  2. Disiplin Ilmu Pengetahuan Sosial (PDIPS) yang dibina pada fakultas-fakultas pendidikan ilmu sosial,
  3. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) yang diberikan terutama di dalam pendidikan persekolahan.
Perkembangan PIPS dan PDIPS secara konseptual terkait erat pada konsep "social studies" secara umum, dan secara kurikuler terkait erat pada perkembangan PIPS dalam dunia persekolahan. Oleh karena itu untuk melihat bagaimana karakteristik dan perkembangan PDIPS perlu dikaitkan dengan konsep, dan perkembangan "social studies" dan konsep sertaa perkembangan PIPS dalam dunia persekolahan.

Konsep "social studies" secara umum berkembang secara evolusioner di Amerika Serikat sejak tahun 1800-an, yang kemudian mengkristal menjadi domain pengkajian akademik pada tahun 1900-an, antara lain dengan berdirinya National Council for the Social Studies (NCSS) pada tahun 1935. Pilar akademik pertama muncul dalam pertemuan pertama NCSS tahun 1935, berupa kesepakatan untuk menempatkan "social studies" sebagai "core curriculum", dan pada tahun 1937 berupa kesepakatan mengenai pengertian "social studies" yang berawal dari pandangan Edgar Bruce Wesley, yakni " The social studies are the social sciences simplified for pedagogical purposes."

Dari penelusuran historis epistemologis, tercatat bahwa dalam kurun waktu 40 tahunan sejak tahun 1935 bidang studi "social studies" tidak mengalami perkembangan yang ditandai dengan ketidakmenentuan, ketidakberkeputusan, ketidakbersatuan, dan ketidakmajuan. Antara tahun 1940-1950 "social studies" mendapat serangan dari berbagai pihak, tahun 1960-1970 timbulnya tarik menarik antara pendukung gerakan the new social studies yang dimotori oleh para sejarawan dan ahli-ahli ilmu sosial dengan gerakan "sosial studies" yang menekankan pada "citizenship education." Para pendukung gerakan "The New Social Studies" kemudia mendirikan Social Science Education Consortium (SSEC). Sedangkan NCSS terus mengembangkan gerakan "social studies" yang terpisah pada "citizenship education."

Pada tahun 1980-1990 an kelompok NCSS berhasil menyepakati "scope and sequence of social studies," yaitu tahun 1963. Kemudian pada tahun 1989 berhasil disepakati konsep "social studies" untuk abad ke 21 yang dituangkan dalam "Charting A Course : Social Studies for the 21st Century," dan terakhir pada tahun 1994 disepakati "Curriculum Standards for Social Studies." 

Dalam perkembangan terakhir itu NCSS masih tetap menempatkan "citizenship education" sebagai inti dari tujuan "social studies". Sementara itu pada kelompok SSEC, kelompok bidang studi ekonomi mengembangkan secara tersendiri "economics education".

Pemikiran mengenai konsep pendidikan IPS di Indonesia banyak dipengaruhi oleh pemikiran "social studies" di Amerika Serikat sebagai salah satu negara yang memiliki pengalaman panjang dan reputasi akademis yang signifikan dalam bidang itu. Reputasi tersebut tampak dalam perkembangan pemikiran mengenai bidang itu seperti dapat disimak dari berbagai karya akademis yang antara lain dipublikasikan oleh National Council for the Social Studies (NCSS).

Senin, 27 Mei 2013

Desa, Pedesaan, Kota, dan Perkotaan

Definisi Desa, Pedesaan, Kota, dan Perkotaan.

Desa merupakan daerah yang memiliki kepadatan penduduk rendah, bermata pencaharian dibidang agraris, memiliki bangunan tempat tinggal yang terpencar-pencar, penduduknya memiliki hubungan sosial yang sangat tinggi serta bersifat homogen.

Menurut Prof. Dr. R. Bintarto, desa merupakan perwujudan atau persatuan geografi, sosial, ekonomi, politik, dan kultural yang terdapat di daerah itu dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.

Pedesaan merupakan daerah pemukiman penduduk yang sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, iklim, dan air sebagai syarat penting bagi terwujudnya pola kehidupan agraris penduduk di tempat itu.

Prof. Dr. R. Bintarto mengemukakan bahwa kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik.

Perkotaan adalah wilayah dengan kegiatan utama bukan pertanian dan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.

Perbedaan dan Persamaan Desa dengan Pedesaan

Perbedaan desa dengan pedesaan yaitu bahwa desa merupakan daerah yang memiliki kepadatan penduduk rendah, penduduknya memiliki hubungan sosial yang sangat tinggi serta bersifat homogen. Sedangkan kalau pedesaan memiliki arti yang luas, dikatakan pedesaan apabila terdiri dari beberapa desa yang merupakan daerah pemukiman penduduk dan sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, iklim dan air sebagai syarat penting bagi terwujudnya pola kehidupan agraris penduduk di tempat itu.

Persamaan desa dengan pedesaan yaitu dapat dilihat pada hubungan antar masyarakatnya yang bersifat kekeluargaan dan gotong royong, mata pencaharian pokok penduduknya adalah dibidang agraris.

Perbedaan dan Persamaan Kota dengan Perkotaan

Perbedaan kota dengan perkotaan yaitu bahwa kota merupakan wilayah pemukiman penduduk dengan kepadatan penduduk yang tinggi, antar masyarakatnya tidak memiliki hubungan yang erat, interaksi bergantung kepada kepentingan, bersifat individualisme dan memiliki perilaku yang heterogen. Sedangkan perkotaan memiliki arti yang luas, suatu wilayah dikatakan wilayah perkotaan apabila merujuk pada ciri-ciri, sifat, dan situasi yang ada pada kota.

Persamaan kota dengan perkotaan yaitu sama-sama memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, antar masyarakat tidak memiliki hubungan yang erat, interaksi bergantung kepada kepentingan, bersifat individualisme, memiliki perilaku yang heterogen, bermata pencaharian bukan dibidang agraris dengan kata lain pertanian bukan pokok utama mata pencaharian.

Ciri-ciri Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan

Masyarakat Pedesaan
  1. Di dalam masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat.
  2. Sistem kehidupan masyarakat pedesaan pada umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan (gameinschaft atau paguyuban).
  3. Sebagian besar masyarakat pedesaan hidup dari pertanian. Pekerjaan-pekerjaan yang bukan pertanian merupakan pekerjaan sampingan yang biasanya sebagai pengisi waktu luang.
  4. Masyarakat pedesaan bersifat homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat dan sebagainya.
Masyarakat Perkotaan
  1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
  2. Masyarakat perkotaan pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain
  3. Interaksi yang terjadi lebih banyak berdasarkan faktor kepentingan daripada faktor pribadi.
  4. Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
  5. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.



Referensi:
http://kamusbahasaindonesia.org/pedesaan
http://id.wikipedia.org/wiki/Desa
http://fadlyghopal.wordpress.com/2010/12/04/masyarakat-perkotaan-dan-masyarakat-pedesaan/

Minggu, 26 Mei 2013

Problema Masuk dan Persebaran Islam di Indonesia

Ada beberapa pendapat mengenai proses penyebaran Islam di Indonesia, misalnya menurut Ricklefs, proses penyebaran Islam itu dilakukan dengan dua proses. Pertama, penduduk pribumi berhubungan dengan agama Islam dan kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang asing (Arab, India, Persia, dan lain-lain) yang telah memeluk agama Islam bertempat tinggal secara permanen di suatu wilayah di Indonesia, melakukan perkawinan campuran dan mengikuti gaya hidup lokal sehingga ajaran Islam dengan mudah masuk dalam kehidupan pribumi (orang Indonesia). Pada perkembangan berikutnya penyebaran Islam dilakukan melalui pertunjukan kesenian, diplomasi politik dengan penguasa setempat, membuka lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren, dan tasawuf.

Pendapat lain membuktikan bahwa agama dan kebudayaan Islam masuk ke wilayah Indonesia dibawa oleh para pedagang Islam dari Gujarat (India). Hal ini dilihat dari penemuan unsur-unsur Islam di Indonesia yang memiliki persamaan dengan India seperti batu nisan yang dibuat oleh orang-orang Kambay, Gujarat.


Download materi lengkapnya disini


Referensi:
http://serbasejarah.blogspot.com/2011/11/penyebaran-islam-di-nusantara.html
http://serbasejarah.blogspot.com/2011/12/proses-awal-kedatangan-islam-ke-indonesia.html
Hasan, Said. H, Materi Pokok Pendidikan IPS 2, Jakarta:Universitas Terbuka, Depdikbud, 1996.

Sabtu, 25 Mei 2013

Sistem Pembelajaran Inkuiri

Sistem Pembelajaran Inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.

Strategi pembelajaran ini menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung. Peran siswa dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar.

Pembelajaran Inkuiri menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya bahwa strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar (siswa : subjek). Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri sehingga muncul sikap percaya diri, hal ini menempatkan guru sebagai fasilitator bukan sumber belajar. Tujuan dari sistem pembelajaran inkuiri adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis (mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental).

Strategi pembelajaran Inkuiri akan efektif apabila :
  1. guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan demikian, dalam strategi inkuiri penguasaan materi pelajaran bukan sebagai tujuan utama pembelajaran, akan tetapi yang lebih dipentingkan adalah proses belajar.
  2. bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
  3. proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
  4. guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir. Strategi inkuiri akan kurang berahsil diterapkan kepada siswa yang kurang memiliki kemampuan untuk berpikir.
  5. jumlah siswa yang belajar tidak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
  6. guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
Prinsip-prinsip penggunaan sistem pembelajaran inkuiri berorientasi pada pengembangan intelektual, yaitu pengembangan kemampuan berpikir, aktivitas siswa mencari dan menemukan sesuatu.
  1. Prinsip interaksi : proses pembelajaran pada dasarnya merupakan proses interaksi, guru merupakan pengatur interaksi.
  2. Prinsip bertanya : sesuai dengan peran guru dalam pembelajaran inkuiri adalah sebagai penanya, sehingga guru harus menguasai teknik bertanya yang baik.
  3. Prinsip belajar untuk berpikir : belajar adalah proses berpikir (learning how to think), mengembangkan potensi otak.
  4. Prinsip keterbukaan : belajar merupakan proses mencoba berbagai kemungkinan, guru memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis.
Langkah-langkah pelaksanaan sistem pembelajaran inkuiri, antara lain :
  • Orientasi
Guru mengkondisikan siswa siap belajar dengan merangsang dan mengajak siswa untuk memecahkan masalah. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah menjelaskan topik tujuan dan hasil belajar yang diharapkan akan dicapai oleh siswa, menjelaskan pokok-pokok kegiatan (langkah-langkah inkuiri) yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan dan menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar.
  • Merumuskan masalah
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah adalah bahwa masalah itu dirumuskan sendiri oleh siswa sedangkan guru hanya memberi topik, masalah yang dikaji mengandung teka-teki yang jawabannya pasti dan konsep dalam masalah merupakan konsep yang sudah diketahui sebelumnya oleh siswa.
  • Mengajukan hipotesis
Dilakukan dengan memberikan berbagai pertanyaan yang akan mendorong siswa untuk membuat kesimpulan sementara.
  • Mengumpulkan data
Aktivitas menjaring informasi yang digunakan untuk menguji hipotesis, tugas guru memberi pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
  • Menguji hipotesis
Menentukan jawaban yang dianggap dapat diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh, menguji hipotesis berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional.
  • Merumuskan kesimpulan
Adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.

Kesulitan-kesulitan dalam penerapan sistem pembelajaran inkuiri  adalah karena menekankan kepada proses berpikir yang berdasarkan kepada dua sayap yang sama pentingnya yaitu proses belajar dan hasil belajar. Disisi lain sudah sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru, dengan demikian bagi siswa, guru adalah sumber belajar yang utama. Selain itu sistem pendidikan yang belum konsisten antara pola belajar (harus student center) dan evaluasi (masih ada UAN)

Keunggulan Sistem Pembelajaran Inkuiri yaitu :
  1. SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, apektif dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
  2. SPI dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
  3. SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
  4. SPI dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata
Kelemahan Sistem Pembelajaran Inkuiri yaitu :
  1. Jika SPI digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
  2. Sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
  3. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya memerlukan waktu yang panjang sehingga seringkali guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
  4. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka SPI akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.


Referensi : Materi ajar bpk. Ibnu Hurri, H. S.sos

Jumat, 24 Mei 2013

Konsep Dasar Antropologi

Antropologi berasal dari bahasa Yunani, Antropologi terdiri dari 2 suku kata yaitu Anthropos dan Logos. Anthropos berarti manusia dan Logos berarti ilmu, jadi secara etimologi, Antropologi berarti ilmu yang mempelajari mengenai manusia.

Apabila kita bertanya apakah yang membedakan manusia dengan hewan atau binatang secara fundamental amaka jawabannya adalah manusia mampu berbudaya, sedangkan hewan tidak. Apa yang dimaksud dengan kebudayaan? Ahli Antropologi yangmengkaji tentang kebudayaan itu dan mencoba menerangkannya atau setidak-tidaknya telah menyusun definisinya. Dilihat dari asal-usul kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Budhi yang berarti akal/ide dan Daya yang berarti usaha /bentuk. 

Adapun ahli Antropologi yang pertama-tama merumuskan definisi kebudayaan adalah:
E. B. Taylor (1874), yang menulis dalam bukunya "Primitive Culture," yaitu:
"Kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat."


Download materi lengkapnya disini



Referensi :
Powerpoint tentang "Konsep Dasar Antropologi" dari bp Ibnu Hurri, H. S.sos


Karakteristik Konsep Sejarah

Secara umum Sejarah adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa kehidupan manusia pada masa lampau. Menurut Hugino dan P.K. Poerwantana, "Sejarah adalah gambaran tentang peristiwa-peristiwa masa lampau yang dialami manusia, disusun secara ilmiah meliputi urutan waktu, diberi tafsiran dan analisis kritis sehingga mudah dimengerti dan dipahami." Sejarah sesungguhnya melekat pada tiap benda, tiap diri makhluk, baik yang hidup maupun yang tidak hidup, tiap fenomena yang ada di alam raya ini. Dengan kata lain, setiap apa yang ada di alam raya ini memiliki sejarah masing-masing atau paling tidak riwayat asal-usulnya.

Dalam mata kuliah Konsep Dasar IPS, Sejarah ini terutama ditujukan pada pembahasan hidup dan kehidupan manusia dalam konteks sosialnya. Oleh karena itu pembahasannya menitikberatkan kepada "Sejarah sebagai salah satu bidang ilmu sosial yang dapat dikonsepkan."

Kunci dalam pengertian Sejarah terletak pada masa lampau, baik itu berupa peristiwa, pengalaman kolektif maupun riwayat masa lampau tersebut. Sejarah sesungguhnya melekat pada tiap benda, tiap diri makhluk hidup (baik yang hidup dan tak hidup), serta setiap fenomena yang terdapat di alam raya ini.

Dengan kata lain, tiap apa yang ada di alam raya ini memiliki sejarah masing-masing, atau paling tidak ada riwayat asal-usulnya. Secara objektif, suatu peristiwa ataupun pengalaman hidup dimasa lampau tidak dapat diulang kembali. Sejarah sebagai bidang ilmu sosial memiliki konsep dasar, antara lain:
  1. Waktu
  2. Dokumen
  3. Alur Peristiwa
  4. Kronologi
  5. Peta
  6. Tahap-tahap Peradaban
  7. Ruang
  8. Evolusi
  9. Revolusi


Download materi lengkapnya disini



Referensi:
Powerpoint tentang "Karakteristik Konsep Sejarah" dari bpk Ibnu Hurri, H. S.sos 




Kamis, 23 Mei 2013

Uniform Region, Nodal Region, Generic Region, dan Specific Region

Setiap tempat dipermukaan bumi mempunyai ciri-ciri yang khusus dimana dapat dibedakan antara tempat yang satu dengan tempat yang lain. Oleh karena itu konsep tempat dinamakan wilayah (region). Konsep tempat dalam pengertian wilayah dapat digunakan sebagai pendekatan geografi, klasifikasinya adalah sebagai berikut:
  • Uniform Region (Wilayah Formal)
Uniform region atau region statis yaitu region yang dibentuk oleh adanya kesamaan kenampakan, termasuk iklim, vegetasi, tanah, landform, pertanian atau penggunaan lahan. Uniform region juga disebut dengan wilayah formal. Homogenitas dari wilayah formal dapat ditinjau berdasarkan kriteria fisik atau alam ataupun kriteria sosial budaya. Wilayah formal berdasarkan kriteria fisik didasarkan pada kesamaan tofografi, jenis batuan, iklim dan vegetasi.
  • Nodal Region (Wilayah Fungsional)
Nodal Region adalah suatu wilayah yang diatur oleh beberapa pusat kegiatan yang dihubungkan melalui garis melingkar. Wilayah Nodal secara fungsional mempunyai ketergantungan antara pusat (inti) dan daerah belakangnya (interland). Tingkat ketergantungan ini dapat dilihat dari arus penduduk, faktor produksi, barang dan jasa, ataupun komunikasi dan transfortasi. Nodal Region atau Region Dinamis ditandai oleh gerak dari dan ke pusat. Pusat ini disebut sebagai node. Wilayah Nodal dikatakan dinamis sebab didefinisikan sebagai gerakan bukan objek yang statis dan terdapat fungsi suatu tempat sebagai sirkulasi. Hubungan antarpusat kegiatan pada umumnya dicirikan dengan adanya arus transportasi dan komunikasi yang pada akhirnya menunjang pertumbuhan dan perkembangan dari setiap wilayah tersebut.
  • Generic Region
Generic Region adalah wilayah yang diklasifikasikan berdasarkan jenisnya sehingga fungsi wilayah yang bersangkutan diabaikan. Penggolongan wilayah ini didasarkan pada kenampakan jenis tertentu.
  • Specific Region
Specific Region yaitu wilayah berdasarkan kekhususan sehingga merupakan daerah tunggal yang mempunyai ciri-ciri tersendiri. 




Download materi lengkapnya disini


Referensi:
- Buku Konsep Dasar IPS oleh Abdul Aziz Wahab, dkk.
- Google

Melangkah dari masa lalu

Jika Anda mengalami trauma pada masa lalu yang begitu membekas. Trauma ini lantas Anda gunakan sebagai 'kambing hitam' atas keterpur...