Rabu, 29 Januari 2014

Melangkah dari masa lalu

Jika Anda mengalami trauma pada masa lalu yang begitu membekas. Trauma ini lantas Anda gunakan sebagai 'kambing hitam' atas keterpurukan Anda saat ini. Anda terus terikat dengannya, meski itu menyakitkan. Bila Anda tak bisa lepas dari trauma, maka coba tanyakanlah hal ini pada diri Anda: "Berapa banyak luka lagi yang akan saya biarkan di derita oleh diri saya sendiri? Apakah trauma ini pantas menghancurkan seluruh sisa hidup saya? Siapa yang berkuasa disini, diri saya--ataukah trauma?" Perhatikanlah daun-daun yang mati dan berguguran dari pohon, ia sebenarnya memberikan hidup baru pada pohon.Bahkan sel-sel dalam tubuh kita pun selalu memperbaharui diri. Segala sesuatu di alam ini memberikan jalan kepada kehidupan yang baru dan membuang yang lama. Satu-satunya yang menghalangi kita untuk melangkah daribmasa lalu adalah pikiran kita sendiri.Beban berat masa lalu, dibawa dari hari ke hari. Berubah menjadi ketakutan dan kecemasan, yang kemudian pada akhirnya akan menghancurkan hidup Anda sendiri. Ai temanku yang teguh hatinya, ingatlah hanya seorang pemenanglah yang bisa melihat potensi, sementara seorang pecundang sibuk mengingat masa lalu. Bila kita sibuk menghabiskan waktu dan energi kita memikirkan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, maka kita tidak memiliki hari ini untuk disyukuri.Saat kita merasa sedih dan putus asa,atau bahkan menderita, coba renungkan keadaan di sekitar kita. Barangkali masih banyak yang lebih parah dibandingkan kita? Tetaplah tegar dan percaya diri,berpikir positif dan optimis, berjuang terus, dan pantang mundur. Itu baru temennya Anne Ahira :-)

Bersikaplah rendah hati

Dear Ai, temanku yang luar biasa...Sekalipun engkau hidup berlimpahan dan berkecukupan dana, tetaplah hidup dengan sederhana.Tidaklah sulit menciptakan sifat yang baik yaitu sikap rendah hati dan sederhana. Orang yang memiliki sikap rendah hati selalu berusaha menjadi pribadi yang bisa menerima orang lain, tidak sombong, atau terlalu memperlihatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki.Tidak usahlah kita risaukan, jika orang lain tidak tahu apa yang kita miliki atau seberapa tinggi kemampuan kita melakukan segala sesuatu. Orang lain bisa menilai 'kualitas seseorang' hanya dengan melihat sikap, tutur kata, dan perilaku sehari-hari yang kita lakukan. Dengan bersikap rendah hati, berarti kita telah menjaga diri kita sendiri. Dengan bersikap rendah hati, berarti kita telah menempatkan diri di posisi yang nyaman, tenang, damai dan tentram.Jika hati sudah merasa nyaman, damai dan tentram, maka secara otomatis Anda akan tampak bersahaja dan bahagia.  Bukankah itu yang kitai nginkan? :-)Marilah kita bersikap rendah hati,dan membiasakan diri, untuk selalu hidup sederhana...

Setiap orang mengalami pasang surut

Tidak baik jika kita menutup-nutupi kelemahan dan kegagalan dengan banyak alasan. Terimalah, dan hadapilah kegagalan itu sebagai pengalaman dan pelajaran berharga, agar bisa jadi pedoman dan tuntunan untuk mencapai kemajuan dan keberhasilan yang lebih berarti di kemudian hari.Dear Ai,Kita tahu bahwa dunia ini selalu berputar. Adakalanya manusia ada dibawah, atau sebaliknya ada di atas.Ada orang bertanya kepada saya, bagaimana dengan kenyataan yang sering kita lihat begitu banyak orang-orang yang selalu di bawah? Bukankah mereka juga tinggal di bumi yang sama dengan orang-orang yang mampu dan kuat berada di atas? Seringkita lihat orang-orang yang sudah diatas malah semakin ke atas.Temanku, pandangan itu semua hanyalah ironi. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada mereka yang sudah ada di atas. Kebanyakan di antara kita melihat mereka yang di atas selalu dari 'materi' atau jabatan.Namun percayalah, setiap orang mengalami pasang surut.Belajarlah dari orang-orang yang sudah ada di atas, dan orang-orang yang berada di bawah. Jangan hanya melihat ke atas.Banyak pelajaran yang bisa diambil dari keduanya, yang bisa engkau jadikan bekal tuk menjadi pribadi yang luhur bijaksana, sukses lahir dan batin.Pepatah mengatakan:"Kebesaran seseorang tidak terlihat ketika dia berdiri dan memberiperintah. Kebesaran seseorang akan terlihat ketika dia berdiri sama tinggi dengan orang lain, dan membantu orang lain untuk mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka untuk mencapai sukses" - Prof.G. Arthur KeoughJanganlah suka cari alasan untuk menutupi kegagalan. Sebaliknya,carilah terus 'cara' untuk menggapai keberhasilan.

Rabu, 20 November 2013

Success

Success Tips #1 

Pikir itu pelita hati...sukses, keunggulan, dan kelebihan itu milik semua orang...yang mau berusaha! Pelita harus dinyalakan, baru akan terang.  Ada pepatah mengatakan:
'Nyalakanlah pelitamu di tempat yang gelap dan tinggi, agar bisa menerangi semua sudut dan segi, tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk semua orang yang belum menemui jati diri.'
Semoga Newsletter ini dapat menjadi PELITA yang bisa menerangi hidup kita untuk menjadi lebih santun, rukun, dan bahagia. Agar pikiran, ucapan, dan perbuatan kita selalu terang. Hidup lebih bermakna dan berguna bagi sesama.

Success Tips #2

Untuk temanku:
Ai, insan manusia yang luar biasa...
Ketika pikiran kita terfokus pada sebuah tujuan, maka secara otomatis akan tercipta sebuah komitmen. Dan komitmen biasanya ditentukan oleh karakter. Orang yang telah mengenali karakternya biasanya akan melakukan hal-hal yang sesuai dengan dirinya, yaitu memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya secara efektif, dan unik!

Kita tahu, setiap manusia memiliki DNA yang berbeda. Nah, kita harus bisa menempatkan keunikan  yangada agar menjadi nilai tambah bagi kita. Hindari membuat keunikan yang ada menjadi keanehan pada diri kita, yang bisa membuat kita tampak konyol dan tidak simpatik. Sebagai contoh, ada seorang laki-laki penggemar Lady Gaga. Dia berusaha berbicara, berjalan, dan berpenampilan seperti Lady Gaga. Eh, yang ada malah dia kelihatan jadi gaga-gugu. :-)
Ai, jika engkau ingin menjadi orang hebat dan mencapai yang tertinggi, milikilah sifat unik yang tidak dibuat-buat. Jadilah dirimu sendiri!

Erni Aladjai - Kota Tanpa Pejalan Kaki (Dimuat di Kolom Literasi Koran Tempo Makassar 22 Juni 2013)

OLEH : ERNI ALADJAI



Sebuah kota dengan jumlah pedestrian (pejalan kaki) terbesar adalah kota yang beradab. Sementara manusia pengguna mobil dan kendaraan roda dua adalah bagian yang tak manusiawi di kota besar (meski tak semua pengguna kendaraan tak menghormati pedestrian). 
Sikap manusia di kota besar yang tak manusiawi kemudian makin dikukuhkan oleh pemerintah, penata kota, pemilik mall dan pedagang kaki lima. Pemerintah bersekongkol dengan pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima menyerobot trotoar, pemerintah hidup dari pajak tak resmi si pedagang kaki lima. Di sisi lain, ada mall atau gedung perkantoran yang hanya menyediakan lahan parkir untuk mobil. Sehingga motor terparkir di trotoar. Hal lainnya sikap pelit tak pantas yang mendarah daging. Hingga manusia tak mau membayar pajak yang mahal sedikit, demi tempat parkir resmi─yang bukan di trotoar dan pinggir jalan. Di sisi yang lain lagi, demi keselamatan dan rasa aman, maka seseorang harus punya kendaraan.
Pernyataan saya di atas memang lugu dan sinis, tapi bagi saya, tak apa-apa untuk mengulang sesuatu yang batu dan terus berulang-ulang menjadi masalah fatal dan vital. Tahun 2004, ketika saya di Makassar, seorang pengendara motor ngebut dan menyalip saat saya menyeberang jalan, ketika saya memarahi dan mengingatkan ia untuk menghargai pedestrian, ia justru balik marah besar. Bukannya meminta maaf karena nyaris memutus nyawa seseorang. Ketika itu saya berpikir, Oh jadi jika Tuan sudah punya mobil atau kendaraan, maka jalan adalah milik Tuan, begitu? Pengguna jalan yang lain, yang menggunakan kaki─bukan mesin, bukanlah siapa-siapa. Tuan sungguh beradab!
Benny H Hoed, guru besar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia mengatakan; di negeri kita, pemaknaan sosial atas tempat yang disebut “jalan” telah mengalami pemaknaan yang melenceng. Pembangunan jalan-jalan di kota-kota kita—termasuk di Jakarta (saya tambahkan, di Makassar juga)—seakan tidak memasukkan jalur khusus bagi pejalan kaki. Yang dipentingkan adalah jalur kendaraan bermotor.
Bahkan zebra cross kehilangan makna. Pengendara mobil dan kendaraan bermotor belajar melupakan Undang-undang No.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan, bahwa mereka diharuskan mengalah kepada penyeberang jalan. Pejalan kaki di negeri kita, justru diminta mengalah untuk sesuka-suka hati pemilik kendaraan memberikan kesempatan menyeberang. Sungguh di negeri kita, orang belajar tidak adil dan menindas sejak di jalan. Saya jadi teringat perkataan Roland Barthes, bahwa kota besar paling sering tak manusiawi. 
Di Jakarta, tiga tahun belakangan ini, banyak anak muda, orang dewasa dan lansia yang vokal menuntut hak-hak pedestrian. Sebab mereka atau kita semua tahu, jalan kaki adalah memang bagian dari manusia. Banyak artikel kesehatan mengatakan jalan kakilah untuk mengurangi penyakit tulang, obesitas, diabetes, bahkan bisa mengurangi resiko terkena kanker payudara. 
Ada pula sebuah artikel kesehatan yang mengatakan berjalan kaki membuat kita bahagia karena jalan kaki bisa mengurangi resiko stres dan depresi, saya percaya ini. Tapi jika Anda berjalan kaki di kota-kota besar di Indonesia, maka yang terjadi adalah; saya jamin, anda  makin depresi.
Dan saat ini dengan imajinasi "berlebihan", saya membayangkan Indonesia bisa mencontoh Athena. Athena adalah kota paling beradab sejak zaman dewa-dewa. Julukan untuk kota ini adalah “Taman bermain para Dewa”. Label beradab Athena tak lepas dari cara manusianya memperlakukan para pejalan kaki. Bahkan istilah pedestrian sendiri bermula dari kisah Dewa Hermes dalam mitologo Yunani kuno. Dikisahkan Dewa Hermes adalah dewa pelindung para pengelana, pejalan kaki dan para saudagar yang mengembara. Itulah kenapa tata kota Athena teduh, jalanannya bersih, penuh taman, gedung-gedung penuh sentuhan kemanusiaan, sehingga semua orang bahagia saat berjalan kaki. 
Memang sebagai negara berkembang yang hanya tahu berkembang biak, terlalu jauh jika kita mencontoh tata kota Athena yang melindungi pejalan kaki, tapi kita bisa menengok negeri tetangga; Malaysia. Kenapa Malaysia yang dulunya di era Soekarno belajar banyak hal dari negeri kita, mampu melindungi pejalan kakinya, sementara negeri tercinta kita; Indonesia, tak berlaku begitu?
Ah, apakah Tuan dan Pemerintah kita pura-pura tidak tahu atau menutup mata, bahwa ketergantungan pada kendaraan bermotor menciptakan biaya menjulang pada aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan? Sementara negeri kita belum menjalankan manajemen mobilitas dengan sungguh-sungguh. Hingga sedikit pun warga tak diberi rasa aman seperti yang ditawarkan  negara-negara lain seperti; Singapura, Malasyia, Amsterdam, San Fransico atau Praha. 
Belanda adalah negara yang paling serius menerapkan manajemen mobilitas, banyak perusahaan di Amsterdam menurunkan tingkat pemakaian mobil hingga 10 persen, yang kemudian diganti dengan sepeda.  
Kini kita hanya bisa merindukan era tahun 70-80-an, di mana ketika itu kota Makassar masih penuh pohon dan orang bepergian dengan jalan kaki. Trotoar tetap trotoar, tanpa tukang tambal ban. Tanpa tenda pedagang. Tanpa patung taman. Tanpa nisan yang sedang dijemur. 
Dan bagi saya, kota tanpa pejalan kaki adalah hampa.


Sumber asli : 
http://pohonsagu.blogspot.com/2013/11/kota-tanpa-pejalan-kaki-dimuat-di-kolom.html

Kamis, 24 Oktober 2013

Fungsi dan Ragam Bahasa


Fungsi Bahasa
Dalam literatur bahasa, para ahli umumnya merumuskan fungsi bahasa bagi setiap orang ada 4, yaitu :  
1). Sebagai alat berkomunikasi 2). Sebagai alat mengekspresikan diri 3). Sebagai alat berintegrasi dan beradaptasi social 4). Sebagai alat kontrol sosial
Ragam Bahasa dan Laras Bahasa
Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang terjadi karena pemakaian bahasa. Ragam bahasa dapat dibedakan berdasarkan media pengantarnya dan berdasarkan situasi pemakaiannya. Berdasarkan media pengantarnya, ragam bahasa dapat dibedakan atas dua macam, yaitu ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis. Berdasarkan situasi pemakaiannya, ragam bahasa dapat dibagi atas tiga macam, yaitu ragam formal, ragam semi formal dan ragam non formal.
Perbedaan ragam lisan dan ragam tulis :
Ragam Lisan 
1). Menghendaki adanya orang kedua, teman berbicara yang berada di depan pembicara 2). Unsur-unsur fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat dan objek tidak selalu dinyatakan. Unsur-unsur itu kadang-kadang dapat ditinggalkan. Hal ini disebabkan oleh bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak, mimik, pandangan, anggukan, atau intonasi. 3). Sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang, dan waktu. 4).  Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara
Ragam Tulis 
1). Tidak mengharuskan adanya teman bicara berada didepan 2). Ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap daripada ragam lisan. Fungsi-fungsi gramatikal harus nyata karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada didepan pembicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang diajak bicara mengerti isi tulisan itu. 3). Tidak terikat oleh situasi, kondisi, ruang, dan waktu. 4). Dilengkapi dengan tanda baca, huruf besar, dan huruf miring.
Ragam Baku dan Tidak Baku
Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakaiannya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya.
Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku.
Sifat-sifat Ragam Baku : 
1). Kemantapan dinamis (sesuai dengan kaidah bahasa dan tidak kaku). 2). Cendekia (ragam baku bersifat cendikia karena ragam baku dipakai pada temapat-tempat resmi. Pewujud ragam baku ini adalah orang-orang yang terpelajar. Hal ini dimungkinkan oleh pembinaan dan pengembangan bahasa yang lebih banyak melalui jalur pendidikan formal (sekolah). Disamping itu, ragam baku dapat dengan tepat memberikan gambaran apa yang ada dalam otak pembicara atau penulis. Selanjutnya, ragam baku dapat memberikan gambaran yang jelas dalam otak pendengar atau pembaca). 3). Seragam (ragam baku bersifat seragam, pada hakikatnya proses pembakuan ialah proses penyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian titik-titik keseragaman).
Ragam Baku Tulis dan Ragam Baku Lisan
Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku ilmiah lainnya. Pemerintah sekarang mendahulukan ragam baku tulis secara nasional. Usaha itu dilakukan dengan menerbitkan masalah ejaan bahasa Indonesia, yang tercantum dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Ukuran dan nilai ragam baku lisan bergantung pada besar atau kecilnya ragam daerah yang terdengar dalam ucapan. Seseorang dapat dikatakan berbahasa lisan yang baku kalau dalam pembicaraannya tidak terlalu menonjol pengaruh logat atau dialek daerahnya.
Ragam Sosial dan Ragam Fungsional
Baik ragam lisan maupun ragan tulis bahasa Indonesia ditandai pula oleh adanya ragam sosial, yaitu ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil.

Referensi
Amando, M. 1962. Uraian Kalimat dan Kata-kata. Djakarta : Pustaka Rakyat. 
Tera, R.I. 2010. Panduan Pintar EYD. Yogyakarta: Indonesia Tera. 
http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan
Munaf, Husen. 1947. Tata Bahasa Indonesia. Edisi Kedua 1951. Djakarta : Fasco. 
Chamdijah, Sitti. 1970. Teori Bahasa Indonesia. Djakarta : Gadjah Mada.
 

Senin, 10 Juni 2013

Sumber dan Media Pembelajaran IPS

1. Sumber Media Pembelajaran Kontekstual dan Elektronik
1.1. Media Pembelajaran kontekstual IPS di SD

Dewasa ini media pendidikan memiliki peranan penting di dalam proses pembelajaran. Dunia pendidikan menuntut penggunaan media pendidikan dari yang sederhana sampai yang canggih. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber informasi dalam pembelajaran karena siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber, misalnya lingkungan sekitar, buku literature, TV, surat kabar, majalah, dan jaringan internet.

Masalahnya sekarang apakah guru IPS sudah memanfaatkan berbagai media sebagai sumber pembelajaran secara efektif?

Pengertian Media

Media berasal dari bahasa latin, yang merupakan bentuk jamak dari “medium” yang berarti perantara atau alat (sarana) untuk mencapai sesuatu.

Assosiation for Education and Communication Technology (AECT) mendifinisikan media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk sesuatu proses penyaluran informasi.

Sedangkan Education Assiciation (NEA) mendifinisikan media sebagai benda yang dapat di manipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional.

Lebih jelas lagi Koyo K dan Zulkarimen Nst (1983) mendefinisikan media sebagai berikut: “Media adalah sesuatu yang dapat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemampuan seseorang sehingga dapat mendorong tercapainya proses belajar pada dirinya”.

Husain Achmad menyatakan bahwa media pendidikan pengertiannya identik dengan peragaan.

Oemar Hamalik menyatakan bahwa media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.

Sedangkan media pengajaran menurut Kosasih Djahiri, 1978/1979 : 66 adalah segala alat bantu yang dapat memperlancar keberhasilan mengajar. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar, guru harus selalu menghubungkan alat bantu mengajar dengan kegiatan mengajarnya.

Pendekatan Kontekstual

Kontekstual diambil dari kata asalnya dalam Bahasa Inggris, yaitu contekstual yang berarti memiliki hubungan dengan konteks atau dalam konteks, yang berkenaan, relefan, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti konteks, yang membawa maksud, makna, dan kepentingan (meaningful).

Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu, baik secara individu maupun kelompok.

Pendekatan kontekstual Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru yang mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota kelurga dan masyarakat.

Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran.

Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi pendidik (guru) dengan peserta didik (siswa), untuk mencapai tujuan pendidikan yang berlangsung dalam ungkapan tertentu. Interaksi ini disebut interaksi pendidikan, yaitu saling pengaruh antara pendidik dengan peserta didik.

Melangkah dari masa lalu

Jika Anda mengalami trauma pada masa lalu yang begitu membekas. Trauma ini lantas Anda gunakan sebagai 'kambing hitam' atas keterpur...