Fungsi Bahasa
Dalam
literatur bahasa, para ahli umumnya merumuskan fungsi bahasa bagi setiap orang
ada 4, yaitu :
1). Sebagai alat berkomunikasi 2). Sebagai alat mengekspresikan diri 3). Sebagai alat berintegrasi dan beradaptasi social 4). Sebagai alat kontrol sosial
1). Sebagai alat berkomunikasi 2). Sebagai alat mengekspresikan diri 3). Sebagai alat berintegrasi dan beradaptasi social 4). Sebagai alat kontrol sosial
Ragam Bahasa dan Laras Bahasa
Ragam
bahasa adalah variasi bahasa yang terjadi karena pemakaian bahasa. Ragam bahasa
dapat dibedakan berdasarkan media pengantarnya dan berdasarkan situasi
pemakaiannya. Berdasarkan media pengantarnya, ragam bahasa dapat dibedakan atas
dua macam, yaitu ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis. Berdasarkan situasi
pemakaiannya, ragam bahasa dapat dibagi atas tiga macam, yaitu ragam formal,
ragam semi formal dan ragam non formal.
Perbedaan ragam lisan dan ragam tulis :
Ragam
Lisan
1). Menghendaki adanya orang kedua, teman berbicara yang berada di depan pembicara 2). Unsur-unsur fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat dan objek tidak selalu dinyatakan. Unsur-unsur itu kadang-kadang dapat ditinggalkan. Hal ini disebabkan oleh bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak, mimik, pandangan, anggukan, atau intonasi. 3). Sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang, dan waktu. 4). Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara
1). Menghendaki adanya orang kedua, teman berbicara yang berada di depan pembicara 2). Unsur-unsur fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat dan objek tidak selalu dinyatakan. Unsur-unsur itu kadang-kadang dapat ditinggalkan. Hal ini disebabkan oleh bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak, mimik, pandangan, anggukan, atau intonasi. 3). Sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang, dan waktu. 4). Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara
Ragam
Tulis
1). Tidak mengharuskan adanya teman bicara berada didepan 2). Ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap daripada ragam lisan. Fungsi-fungsi gramatikal harus nyata karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada didepan pembicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang diajak bicara mengerti isi tulisan itu. 3). Tidak terikat oleh situasi, kondisi, ruang, dan waktu. 4). Dilengkapi dengan tanda baca, huruf besar, dan huruf miring.
1). Tidak mengharuskan adanya teman bicara berada didepan 2). Ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap daripada ragam lisan. Fungsi-fungsi gramatikal harus nyata karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada didepan pembicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang diajak bicara mengerti isi tulisan itu. 3). Tidak terikat oleh situasi, kondisi, ruang, dan waktu. 4). Dilengkapi dengan tanda baca, huruf besar, dan huruf miring.
Ragam Baku dan Tidak Baku
Ragam baku
adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakaiannya
sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam
penggunaannya.
Ragam
tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri
yang menyimpang dari norma ragam baku.
Sifat-sifat Ragam Baku :
1). Kemantapan dinamis (sesuai dengan kaidah bahasa dan tidak kaku). 2). Cendekia (ragam baku bersifat cendikia karena ragam baku dipakai pada temapat-tempat resmi. Pewujud ragam baku ini adalah orang-orang yang terpelajar. Hal ini dimungkinkan oleh pembinaan dan pengembangan bahasa yang lebih banyak melalui jalur pendidikan formal (sekolah). Disamping itu, ragam baku dapat dengan tepat memberikan gambaran apa yang ada dalam otak pembicara atau penulis. Selanjutnya, ragam baku dapat memberikan gambaran yang jelas dalam otak pendengar atau pembaca). 3). Seragam (ragam baku bersifat seragam, pada hakikatnya proses pembakuan ialah proses penyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian titik-titik keseragaman).
1). Kemantapan dinamis (sesuai dengan kaidah bahasa dan tidak kaku). 2). Cendekia (ragam baku bersifat cendikia karena ragam baku dipakai pada temapat-tempat resmi. Pewujud ragam baku ini adalah orang-orang yang terpelajar. Hal ini dimungkinkan oleh pembinaan dan pengembangan bahasa yang lebih banyak melalui jalur pendidikan formal (sekolah). Disamping itu, ragam baku dapat dengan tepat memberikan gambaran apa yang ada dalam otak pembicara atau penulis. Selanjutnya, ragam baku dapat memberikan gambaran yang jelas dalam otak pendengar atau pembaca). 3). Seragam (ragam baku bersifat seragam, pada hakikatnya proses pembakuan ialah proses penyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian titik-titik keseragaman).
Ragam Baku Tulis dan Ragam Baku Lisan
Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai
dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku ilmiah lainnya.
Pemerintah sekarang mendahulukan ragam baku tulis secara nasional. Usaha itu
dilakukan dengan menerbitkan masalah ejaan bahasa Indonesia, yang tercantum dalam
buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan (EYD).
Ukuran dan nilai ragam baku lisan bergantung pada besar atau kecilnya ragam
daerah yang terdengar dalam ucapan. Seseorang dapat dikatakan berbahasa lisan
yang baku kalau dalam pembicaraannya tidak terlalu menonjol pengaruh logat atau
dialek daerahnya.
Ragam Sosial dan Ragam Fungsional
Baik ragam lisan maupun ragan tulis bahasa
Indonesia ditandai pula oleh adanya ragam sosial, yaitu ragam bahasa yang
sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam
lingkungan sosial yang lebih kecil.
Referensi
Amando, M. 1962. Uraian Kalimat dan Kata-kata. Djakarta : Pustaka Rakyat.
Tera, R.I. 2010. Panduan Pintar EYD. Yogyakarta: Indonesia Tera.
http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan
Munaf, Husen. 1947. Tata Bahasa Indonesia. Edisi Kedua 1951. Djakarta : Fasco.
Chamdijah, Sitti. 1970. Teori Bahasa Indonesia. Djakarta : Gadjah Mada.
Referensi
Amando, M. 1962. Uraian Kalimat dan Kata-kata. Djakarta : Pustaka Rakyat.
Tera, R.I. 2010. Panduan Pintar EYD. Yogyakarta: Indonesia Tera.
http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan
Munaf, Husen. 1947. Tata Bahasa Indonesia. Edisi Kedua 1951. Djakarta : Fasco.
Chamdijah, Sitti. 1970. Teori Bahasa Indonesia. Djakarta : Gadjah Mada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar